Senin, 08 September 2014
4 HAL YANG MEMBANGUN KEIMANAN
Iman tidak cukup hanya sekedar pengakuan, sebab kadar iman pada manusia akan yazid wa yanqus, kadang iman bertambah dan kadang pula berkurang, oleh karena itu iman harus dibuktikan dengan tindakan yang dapat membangun keimanan setiap diri manusia. Tindakan yang dapat membangun keimanan setiap diri manusia pada dasarnya ada empat hal, yaitu keluarga, sekolah atau majelis ta’lim, lingkungan, dan bacaan. Mengapa demikian?
Pertama, keluarga.
Keluarga merupakan unit terkecil dalam struktur sosial kemasyarakatan. Dari keluarga tatanan masyarakat suatu bangsa akan ditentukan kemajuan dan kemundurannya. Sebuah keluarga dibangun oleh sebuah komitmen oleh pembentuknya yaitu sepasang suami isteri untuk satu cita-cita yaitu mewujudkan keluarga yang damai, harmonis yang disinari ikatan cinta dan kasih sayang antara anggota keluarga atau yang kita kenal dengan istilah keluarga sakinah, mawaddah wa rohmah.
Keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama dalam kehidupan manusia, tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai manusia sosial dalam interaksi sosial dengan kelompoknya. Keluarga merupakan kelompok sosial primer, di dalamnya terjadi proses pembentukan norma-norma sosial, internalisasi norma-norma. Pengalaman-pengalaman dalam interaksi sosial dalam keluarga turut menentukan tingkah laku seseorang terhadap orang lain dalam pergaulan sosial di luar keluarga, sehingga ketika orang tua yang merupakan kendali sebuah keluarga berucap terhadap buah hati mereka, maka ucapan itu pun akan didengarkan dan ditaati. Inilah konsekuensi iman yang sesungguhnya. Sebagaimana Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rosul menghukum (mengadili) di antara merekaialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur: 51)
Lingkungan terkecil yang kita sebut dengan keluarga memiliki beberapa fungsi yang sangat berpengaruh terhadap bangunan iman, di antaranya:
- Fungsi biologis, bertujuan agar memperoleh keturunan dan memelihara kehormatan serta martabat manusia sebagai makhluk yang berakal dan beradab.
- Fungsi edukatif, keluarga merupakan tempat pendidikan bagi semua anggotanya di mana orang tua mempunyai peran penting membawa anak-anaknya menuju kedewasaan rohani dan jasmani. Fungsi edukatif keluarga berkaitan dengan pemeliharaan dan pengembangan potensi akalnya
- Fungsi religius, keluarga sebagai tempat penanaman nilai moral agama melalui pemahaman, penyadaran dan praktek dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipta iklim keagamaan.
- Fungsi protektif, keluarga menjadi tempat yang aman dari gangguan sekaligus untuk menangkal berbagai pengaruh negatif yang masuk di dalamnya.
- Fungsi sosialisasi, keluarga sebagai tempat untuk mempersiapkan anggota keluarganya sebagai anggota masyarakat yang baik, mampu memegang norma-norma kehidupan secara universal.
- Fungsi rekreatif, bertujuan untuk menciptakan kondisi keluarga yang saling menghargai, menghormati, demokratis dan mampu mengakomodasi aspirasi masing-masing anggotanya.
- Fungsi ekonomis, keluarga merupakan kesatuan ekonomis di mana keluarga memiliki aktifitas mencari nafkah, pembinaan usaha, perencanaan anggaran, dan bagaimana cara mempertanggungjawabkan harta yang diperoleh di hadapan makhluk dan Sang Pencipta.
Kedua, sekolah atau majelis ta’lim.
Seperti yang kita ketahui bersama, sekolah atau majelis ta’lim merupakan pusat ilmu. Sebuah pepatah bijak mengatakan bahwa Iman dan ilmu jika bersatu dalam diri manusia akan melahirkan amal saleh. Amal tanpa ilmu akan sia-sia, karena dalam amal tentu ada rukun dan syaratnya, sehingga jika beramal tanpa tahu rukun dan syaratnya maka apalah guna amal itu. Begitu pula ilmu tanpa amal, semua ilmunya tiada guna. Iman tanpa ilmu akan tergelincir arus waktu. Seperti yang tertera dalam firman Allah SWT: “Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan jika kamu mengetahui” (QS. al-Ankabut: 64).
Betapa pentingnya kedudukan ilmu dalam Islam. Hukumnya pun wajib bagi seluruh umat Muslim dari buaian hingga ke liang lahat. “Mencari ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim. Sesungguhnya orang yang mencari ilmu akan dimintakan ampunan kepada Allah oleh segala sesuatu sampai oleh ikan-ikan di laut” (HR. Ibn Abdul Bar dari Anas). Seperti dikatakan pula oleh pepatah Arab:“Utlubul ‘ilma walaw bisshiin” yang artinya “Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”.
Ilmu adalah penerang kehidupan. Penyelamat dunia dan akhirat. Dengannya manusia mampu “membaca alam”. Dengannya manusia dapat mengamalkan ibadah yang diperintahkan Allah SWT. Dengannya pula manusia dapat selamat dari panasnya api neraka. Ilmu mampu mengangkat derajat manusia baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sebagaimana Firman-Nya: “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. al Mujadalah: 11)
Ilmu sangat penting bagi manusia. Seperti yang diungkapkan seorang tokoh cendekiawan Muslim termasyhur, Imaduddin Abd al-Rahim, “Sebuah kasino dengan penangkal petir yang baik tentu lebih selamat dari kemungkinan tersambar petir dibandingkan sebuah masjid tanpa penangkal petir”. Nurcholish Madjid mengartikan pernyataan ini dengan, “Seorang kafir yang paham sunnatullah dan yang melaksanakannya akan lebih terjamin memperoleh keselamatan dan sukses di dunia daripada seorang yang beriman yang tidak tahu dan tidak melaksanakan sunnatullah itu. Sebab hasil dari nrimo-nya manusia adalah kebodohan dan kemiskinan.
Artinya, siapapun di dunia ini, baik Muslim maupun non Muslim berhak mendapatkan kesuksesan dunia yaitu dengan cara paham dan melaksanakan sunnatullah. Pemahaman inilah yang dapat membangkitkan semangat kaum Muslimin untuk segera “bangun” dari keterpurukan sejarah yang selama ini mengkerangkeng kita semua hingga kembali pada kemegahan dan ketinggian yang pernah dilukis oleh orang-orang sebelum kita, khususnya pada masa kekayaan Rasul saw.
Karenanya, kebutuhan kaum Muslimin yang paling mendesak adalah ilmu dan aplikasinya. Melalui kesadaran terhadap sunnatullah inilah diharapakan kita “melek” dengan kondisi saat ini. Kondisi yang menempatkan umat Islam berada di bawah kaum kaafiruun. Oleh karena itu, manusia harus mengerahkan segenap daya dan upayanya guna memahami apa yang dinamakan sunnatullah. Hal ini dilakukan guna membebaskan kita dari kebodohan dan kemiskinan.
Sikap manusia terhadap sunnatullah tidak hanya berhenti pada “nrimo”. Sebab kepandaian dan kekayaan disimpan Allah dalam sunnatullah yang secara pasti bergantung pada kerja keras manusia sebagai kholifah fil ardh. Meskipun kita tahu benar bahwa segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini merupakan ketentuan (taqdir) objektif Allah SWT dan ini berlaku pada seluruh makhluk-Nya, tanpa terkecuali, termasuk manusia. Namun, betapa beruntungnya umat Islam, karena pada saat usahanya yang maksimal tidak berhasil, di sana masih tersimpan harapan iman yang sempurna yaitu tawakkal ‘alallah agar dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Ketiga, lingkungan.
Seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa lingkungan terkecil manusia adalah keluarga, sehingga yang paling berpengaruh dalam kehidupan dan kadar iman seseorang dalam membangun keimanan manusia adalah lingkungan keluarga. Namun begitu, lingkungan kehidupan di sekitar manusia dan di luar keluarga juga berpengaruh dalam membangun keimanan seseorang, sebab apa yang mereka lihat dan apa yang mereka lakukan merupakan aplikasi iman yang sesungguhnya.
Jika lingkungan manusia itu buruk, maka tidak menutup kemungkinan bangunan iman lingkungan masyarakatnya pun buruk. Sebaliknya, jika lingkungan manusia itu baik, maka bangunan iman lingkungan masyarakatnya pun baik, sebab lingkungan dapat menelurkan akhlak mahmudah, lingkungan pula dapat menelurkan akhlak madzmumah.
Keempat, bacaan.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan (QS. al-‘Alaq: 1). Itulah salah satu ayat yang pertama kali turun kepada baginda Muhammad saw. Satu ayat yang ringkas, padat, jelas namun memiliki makna yang mendalam dan langsung ke pokok bangunan iman manusia. Mengapa demikian? Sebab membaca merupakan kunci pembuka dari segala pengetahuan. Dengan membaca, manusia dapat memahami segala hal yang diperintahkan Allah SWT kepada sang hamba. Dengan membaca, manusia dapat mengerti pesan apa yang terkandung di dalam kalam-Nya. Dengan membaca, keselamatan dunia dan akhirat lah dapat dicapai., sehingga pantaslah jika ayat yang pertama kali diturunkan adalah perihal membaca.
Membaca bukan hanya dilakukan dengan mata dzohir manusia, namun “membaca alam” dengan akal manusia merupakan hal yang harus diperhatikan, sebab ayat Allah SWT bukan hanya ayat yang tertera dalam al Qur-an saja, melainkan ada juga ayat yang tersirat dari alam.
Dari keempat hal yang telah disebutkan di atas, maka sudah sepatutnyalah kita sebagai umat Islam berusaha untuk terus membangun dan meningkatkan keimanan kita dengan menjaga dan mengaplikasikan iman dengan melakukan hal terbaik bagi keluarga, sekolah atau majelis ta’lim atau pendidikan, lingkungan, dan rajin membaca guna menambahkan kadar keimanan. Semoga kita termasuk hamba-hamaba-Nya yang selalu berjuang dengan segala daya dan upaya untuk dapat membangun dan meningkatkan keimanan. Aamiin. ***
HAL YANG HARUS DIPERSIAPKAN KETIKA AKAN MENIKAH
Oleh: Sellin
Guna memudahkan pembaca buletin Ikhlas dalam memahami isi Rubrik Bimbingan Ibadah, maka isi Rubrik Bimbingan Ibadah, mulai saat ini diganti dengan Rubrik “Membangun Keluarga Sakinah (MKS)” dengan memfokuskan kajian pada ilmu yang dapat mengantarkan manusia pada pembentukan keluarga sakinah. Agar isi rubrik lebih luas dan terbahas tuntas, maka isi Rubrik MKS akan bersambung di setiap terbitnya buletin dengan judul yang berbeda dan pembahasan lebih mendalam.
Membangun Keluarga Sakinah merupakan implementasi ilmu yang dimiliki manusia untuk taqorrub Ilallah, sebab bagaimanapun juga hakikat diciptakannya manusia ke alam ini tiada lain untuk beribadah pada-Nya: “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (QS. adz-Dzariat: 56)
Untuk dekat dengan Sang Kholiq, maka Allah SWT pun menurunkan kitab suci yang digunakan sebagai pegangan dan referensi utama bagi umat manusia. Kitab-kitab itu memiliki fungsi utama untuk menanamkan bendera ketauhidan (La Ila Ha Illallah). Di dalam menegakkan ketauhidan tersebut diutuslah Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul untuk mengajarkan dan mencontohkan keagungan Tuhan, kemudian dari Nabi dan Rasul itu diciptakanlah keturunan yang tentu bukan hanya untuk memperbanyak manusia secara jasadiah, namun kembali pada tugas utama mereka yaitu untuk mengagungkan Tuhan. Hal ini terbukti dengan diciptakannya Hawa sebagai pendamping Adam yang kemudian melahirkan dua puluh pasang anak untuk mengabdi pada-Nya.
Agar dekat dengan Allah SWT, selaku pencipta alam semesta beserta isinya, maka aspek dasar yang harus dibenahi adalah lingkungan keluarga. Sebab keluarga merupakan tiang negara. Bapak adalah kemudi dan kendali terhebat bagi keluarga. Ibu adalah tonggak kesuksesan suatu negara. Negara terkecil dalam kehidupan manusia adalah keluarga, sehingga keberhasilan suatu negara bergantung pada keberhasilan dalam lingkup keharmonisan keluarga. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku (rasul) adalah sebaik-baik kalian terhadap keluargaku”. (HR. Ibnu Majah).
Sebelum terbentuk keluarga sakinah, maka persiapan yang matang untuk membentuk keluarga itupun sangat dibutuhkan. Di antaranya adalah persiapan pernikahan, sebab pernikahan merupakan pintu gerbang kehidupan baru manusia. Berbagai kebahagiaan dan masalah baru akan muncul setelah pernikahan, karenanya persiapan pernikahan harus benar-benar direalisasikan. Hal yang harus benar-benar dipersipakan sebelum pernikahan atau syarat menikah adalah pemahaman tentang syarat menikah itu sendiri seperti baligh umur dan kedewasaannya, baligh ilmu dan pendidikannya, baligh ekonominya. Mengapa dikatakan harus baligh dengan ketiga aspek tersebut? sebab ketiga aspek tersebut merupakan kunci dari keberhasilan rumah tangga yang sakinah mawaddah dan rahmah. Keluarga sakinah adalah keluarga yang senantiasa bermesraan di dunia juga di akhirat. Begitu juga dengan keluarga yang mawaddah dan rahmah, keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang.
Untuk mewujudkan kemesraan, ketentraman dan saling sayang dunia akhirat, tentu sepasang suami istri harus berhasil mewujudkan keluarga yang sukses dalam pandangan Islam. Sukses dalam pandangan Islam berarti setiap pernikahan harus memiliki ilmu yang bersangkutan dengan tata cara menjaga keluarga yang baik serta pemenuhan ekonomi yang cukup, sebab jika ilmu dan ekonominya berantakan, maka keharmonisan rumah tangga adalah taruhannya. Selanjutnya, jika kondisi umur telah memadai (baligh menurut pandangan Islam), namun kedewasaannya belum memadai, tekanan psikologislah taruhannya.
Bagi mereka yang mencari Sakinah (ketentraman), Mawaddah (kasih), dan Rahmah (sayang) dalam keluarga, maka mendengarkan nasehat yang diberikan Tuhan melalui kitab suci-Nya adalah satu pilihan utama. Nasehat itu di antaranya adalah mendefinisikan pernikahan sebagai suatu ibadah.
Tidak dipungkiri bahwa keluarga terbentuk karena cinta, namun jika cinta dijadikan sebagai landasan, maka tiang keluarga akan rapuh, akan mudah hancur. Jadikanlah Allah sebagai landasan, niscaya akan selamat tidak saja dunia, tapi juga akhirat. Jadikanlah ridho Allah sebagai tujuan, niscaya sakinah, mawaddah, dan rahmah akan tercapai.
Untuk para laki-laki janganlah menginginkan menjadi raja dalam “istanamu”, disambut istri ketika datang dan dilayani segala kebutuhan. Jika ini kau lakukan, “istanamu” tidak akan langgeng. Lihatlah manusia ter-agung Muhammad saw. Tidak marah ketika harus tidur di depan pintu, beralaskan sorban, karena sang istri tercinta tidak mendengar kedatangannya. Tetap tersenyum meski tidak mendapatkan makanan tersaji dihadapannya ketika lapar, menjahit bajunya yang robek. Jangan pula menginginkan menjadi ratu dalam “istanamu”, disayang, dimanja dan dilayani suami, terpenuhi apa yang menjadi keinginanmu, jika itu engkau lakukan “istanamu” akan menjadi neraka bagimu. Jangan engkau terlalu cinta kepada istrimu. Jangan engkau terlalu menuruti istrimu, jika itu engkau lakukan akan celaka, engaku tidak akan dapat melihat yang hitam dan yang putih, tidak akan dapat melihat yang benar dan yang
salah.
Lihatlah bagaimana Allah menegur “Nabi”-mu tatakala mengharamkan apa yang Allah halalkan hanya karena menuruti kemauan sang istri. Tegaslah terhadap istrimu.
Dengan cintamu, ajaklah dia taat kepada Allah. Jangan biarkan dia dengan kehendaknya. Lihatlah bagaimana istri Nuh dan Luth. Di bawah bimbingan manusia pilihan, justru mereka
menjadi penentang, istrimu bisa menjadi musuhmu. Didiklah istrimu, jadikanlah dia sebagai Hajar, wanita utama yang loyal terhadap tugas suami, Ibrahim. Jadikan dia sebagai Maryam, wanita utama yang bisa menjaga kehormatannya. Jadikan dia sebagai Khadijah, wanita utama yang bisa mendampingi sang suami Muhammad saw menerima tugas risalah. Istrimu adalah tanggung jawabmu. Jangan kau larang mereka taat kepada Allah. Biarkan mereka menjadi wanita shalilah. Biarkan mereka menjadi Hajar atau Maryam. Jangan kau belenggu mereka dengan egomu.
Agar semua hal di atas dapat terealisasi, maka diperlukan ilmu yang memadainya. Oleh karena itu, menikahlah dengan persyaratan yang lengkap. Lengkap dari segi baligh umur (kedewasaan), baligh atau cukup ilmu dan pendidikan, serta baligh atau cukup ekonomi. Mengapa demikian? Apa alasannya? Buletin minggu depan dengan rubrik Membangun Keluarga Sakinah akan membahasnya lebih detail dan terbuka dengan judul “Baligh adalah salah satu syarat utama pernikahan”. Tunggu kami di edisi berikutnya!
Guna memudahkan pembaca buletin Ikhlas dalam memahami isi Rubrik Bimbingan Ibadah, maka isi Rubrik Bimbingan Ibadah, mulai saat ini diganti dengan Rubrik “Membangun Keluarga Sakinah (MKS)” dengan memfokuskan kajian pada ilmu yang dapat mengantarkan manusia pada pembentukan keluarga sakinah. Agar isi rubrik lebih luas dan terbahas tuntas, maka isi Rubrik MKS akan bersambung di setiap terbitnya buletin dengan judul yang berbeda dan pembahasan lebih mendalam.
Membangun Keluarga Sakinah merupakan implementasi ilmu yang dimiliki manusia untuk taqorrub Ilallah, sebab bagaimanapun juga hakikat diciptakannya manusia ke alam ini tiada lain untuk beribadah pada-Nya: “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (QS. adz-Dzariat: 56)
Untuk dekat dengan Sang Kholiq, maka Allah SWT pun menurunkan kitab suci yang digunakan sebagai pegangan dan referensi utama bagi umat manusia. Kitab-kitab itu memiliki fungsi utama untuk menanamkan bendera ketauhidan (La Ila Ha Illallah). Di dalam menegakkan ketauhidan tersebut diutuslah Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul untuk mengajarkan dan mencontohkan keagungan Tuhan, kemudian dari Nabi dan Rasul itu diciptakanlah keturunan yang tentu bukan hanya untuk memperbanyak manusia secara jasadiah, namun kembali pada tugas utama mereka yaitu untuk mengagungkan Tuhan. Hal ini terbukti dengan diciptakannya Hawa sebagai pendamping Adam yang kemudian melahirkan dua puluh pasang anak untuk mengabdi pada-Nya.
Agar dekat dengan Allah SWT, selaku pencipta alam semesta beserta isinya, maka aspek dasar yang harus dibenahi adalah lingkungan keluarga. Sebab keluarga merupakan tiang negara. Bapak adalah kemudi dan kendali terhebat bagi keluarga. Ibu adalah tonggak kesuksesan suatu negara. Negara terkecil dalam kehidupan manusia adalah keluarga, sehingga keberhasilan suatu negara bergantung pada keberhasilan dalam lingkup keharmonisan keluarga. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku (rasul) adalah sebaik-baik kalian terhadap keluargaku”. (HR. Ibnu Majah).
Sebelum terbentuk keluarga sakinah, maka persiapan yang matang untuk membentuk keluarga itupun sangat dibutuhkan. Di antaranya adalah persiapan pernikahan, sebab pernikahan merupakan pintu gerbang kehidupan baru manusia. Berbagai kebahagiaan dan masalah baru akan muncul setelah pernikahan, karenanya persiapan pernikahan harus benar-benar direalisasikan. Hal yang harus benar-benar dipersipakan sebelum pernikahan atau syarat menikah adalah pemahaman tentang syarat menikah itu sendiri seperti baligh umur dan kedewasaannya, baligh ilmu dan pendidikannya, baligh ekonominya. Mengapa dikatakan harus baligh dengan ketiga aspek tersebut? sebab ketiga aspek tersebut merupakan kunci dari keberhasilan rumah tangga yang sakinah mawaddah dan rahmah. Keluarga sakinah adalah keluarga yang senantiasa bermesraan di dunia juga di akhirat. Begitu juga dengan keluarga yang mawaddah dan rahmah, keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang.
Untuk mewujudkan kemesraan, ketentraman dan saling sayang dunia akhirat, tentu sepasang suami istri harus berhasil mewujudkan keluarga yang sukses dalam pandangan Islam. Sukses dalam pandangan Islam berarti setiap pernikahan harus memiliki ilmu yang bersangkutan dengan tata cara menjaga keluarga yang baik serta pemenuhan ekonomi yang cukup, sebab jika ilmu dan ekonominya berantakan, maka keharmonisan rumah tangga adalah taruhannya. Selanjutnya, jika kondisi umur telah memadai (baligh menurut pandangan Islam), namun kedewasaannya belum memadai, tekanan psikologislah taruhannya.
Bagi mereka yang mencari Sakinah (ketentraman), Mawaddah (kasih), dan Rahmah (sayang) dalam keluarga, maka mendengarkan nasehat yang diberikan Tuhan melalui kitab suci-Nya adalah satu pilihan utama. Nasehat itu di antaranya adalah mendefinisikan pernikahan sebagai suatu ibadah.
Tidak dipungkiri bahwa keluarga terbentuk karena cinta, namun jika cinta dijadikan sebagai landasan, maka tiang keluarga akan rapuh, akan mudah hancur. Jadikanlah Allah sebagai landasan, niscaya akan selamat tidak saja dunia, tapi juga akhirat. Jadikanlah ridho Allah sebagai tujuan, niscaya sakinah, mawaddah, dan rahmah akan tercapai.
Untuk para laki-laki janganlah menginginkan menjadi raja dalam “istanamu”, disambut istri ketika datang dan dilayani segala kebutuhan. Jika ini kau lakukan, “istanamu” tidak akan langgeng. Lihatlah manusia ter-agung Muhammad saw. Tidak marah ketika harus tidur di depan pintu, beralaskan sorban, karena sang istri tercinta tidak mendengar kedatangannya. Tetap tersenyum meski tidak mendapatkan makanan tersaji dihadapannya ketika lapar, menjahit bajunya yang robek. Jangan pula menginginkan menjadi ratu dalam “istanamu”, disayang, dimanja dan dilayani suami, terpenuhi apa yang menjadi keinginanmu, jika itu engkau lakukan “istanamu” akan menjadi neraka bagimu. Jangan engkau terlalu cinta kepada istrimu. Jangan engkau terlalu menuruti istrimu, jika itu engkau lakukan akan celaka, engaku tidak akan dapat melihat yang hitam dan yang putih, tidak akan dapat melihat yang benar dan yang
salah.
Lihatlah bagaimana Allah menegur “Nabi”-mu tatakala mengharamkan apa yang Allah halalkan hanya karena menuruti kemauan sang istri. Tegaslah terhadap istrimu.
Dengan cintamu, ajaklah dia taat kepada Allah. Jangan biarkan dia dengan kehendaknya. Lihatlah bagaimana istri Nuh dan Luth. Di bawah bimbingan manusia pilihan, justru mereka
menjadi penentang, istrimu bisa menjadi musuhmu. Didiklah istrimu, jadikanlah dia sebagai Hajar, wanita utama yang loyal terhadap tugas suami, Ibrahim. Jadikan dia sebagai Maryam, wanita utama yang bisa menjaga kehormatannya. Jadikan dia sebagai Khadijah, wanita utama yang bisa mendampingi sang suami Muhammad saw menerima tugas risalah. Istrimu adalah tanggung jawabmu. Jangan kau larang mereka taat kepada Allah. Biarkan mereka menjadi wanita shalilah. Biarkan mereka menjadi Hajar atau Maryam. Jangan kau belenggu mereka dengan egomu.
Agar semua hal di atas dapat terealisasi, maka diperlukan ilmu yang memadainya. Oleh karena itu, menikahlah dengan persyaratan yang lengkap. Lengkap dari segi baligh umur (kedewasaan), baligh atau cukup ilmu dan pendidikan, serta baligh atau cukup ekonomi. Mengapa demikian? Apa alasannya? Buletin minggu depan dengan rubrik Membangun Keluarga Sakinah akan membahasnya lebih detail dan terbuka dengan judul “Baligh adalah salah satu syarat utama pernikahan”. Tunggu kami di edisi berikutnya!
3 HAL YANG DAPAT MERUNTUHKAN KEBAHAGIAAN MANUSIA (DUNIA DAN AKHIRAT)
Pada dasarnya tujuan utama manusia diciptakan di dunia ini adalah untuk taqorrub ilallah. Guna menempuh tujuan utama manusia itu, Imam Al Ghazali mengungkapkan bahwa manusia harus menjadi manusia yang utuh, yaitu manusia yang memiliki iman, islam dan ihsan. Hal ini dilakukan sebab manusia tersusun dari materi dan immateri atau lebih sederhana dengan istilah jasmani dan ruhani, yang keduanya berfungsi sebagai abdi dan khalifah Allah di muka bumi (Al Ghazali, 1994 : 105,144,162-163 dan 200). Namun demikian untuk menempuh tiga konsep di atas sungguh tidaklah mudah. Sadar bahwa di dalam hidup ini, penuh dengan rintangan. Di antaranya ada tiga hal yang dapat meruntuhkan kebahagiaan manusia, baik kebahagiaan dunia maupun kebahagiaan akhirat. Tiga hal tersebut adalah kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan. Mengapa demikian?
Pertama, kebodohan.
Ilmu adalah penangkal paling manjur bagi segala kondisi manusia. Dengan ilmu, manusia dapat mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan ilmu, manusia dapat mengetahui mana yang dihalalkan dan mana yang diharamkan. Dengan ilmu pula, manusia dapat “berkaca” akan sejauh mana kedekatannya dengan Allah SWT. Sebab amal tanpa ilmu sia-sia. Iman tanpa amal bagai pohon tak berbuah, apalah guna iman tanpa realisasi. Oleh karena itu kebodohan merupkan salah satu hal yang dapat meruntuhkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Jika manusia menyandang status “bodoh”, di mata manusia lain pun akan menjadi sampah dan tidak dibutuhkan. Kebodohan akan berimplikasi pada kemiskinan. Hilanglah kebahagiaan duniawi. Lihatlah betapa banyak orang yang memilih untuk menjadi pengangguran dan pengemis. Pada hakikatnya merekalah orang yang bodoh. Artinya, orang yang bodoh adalah manusia yang tidak mau memanfaatkan kelebihan dan rizki yang diberikan Allah SWT padanya (pengangguran). Orang yang bodoh adalah orang yang menghinakan dirinya di mata manusia lain (pengemis). Orang yang bodoh adalah bagi mereka yang enggan mengambil pelajaran dari segala kejadian. Orang yang bodoh adalah orang yang tidak mau menuntut ilmu. Itu sebabnya Negara mewajibkan rakyatnya untuk bersekolah wajib 12 tahun, dari SD hingga SMA.
Jadi, orang yang berilmu pasti tidak akan melakukan hal yang tidak disukai Tuhannya. Orang yang berilmu akan selalu menjaga amanat Allah SWT untuk menjaga harkat serta derajatnya. Orang yang berilmu akan memilih hidup dengan bekerja keras dibandingkan harus menadahkan tanggannya pada orang lain. Bukankah tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah? Jika manusia sudah merendahkan Tuhannya dengan menjadi peminta-minta (pengemis, pengamen, dll), maka inilah kerugian dan keruntuhan kebahagiaan di akhirat kelak. Sebab Allah SWT menghendaki hamba-Nya untuk menyanjung-Nya dengan ilmu. “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (QS. al Mujadalah: 11)
Kedua, kemiskinan.
Kemiskinan, di mata duniawi dapat membuat harkat dan derajat manusia rendah. Dikarenakan miskin, manusia tidak dapat menuntut ilmu, sebab ilmu disadari ataupun tidak tetap harus dengan biaya dan karena itu salah satu syarat orang yang menuntut ilmu selain kemauan yang keras adalah bekal yang cukup. Jika tidak memiliki harta atau bekal yang cukup, lantas bagaimana akan menuntut ilmu, sedangkan kita semua tahu menuntut ilmu adalah kewajiban seluruh umat Islam dari buaian hingga ke liang lahat. “Mencari ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim. Sesungguhnya orang yang mencari ilmu akan dimintakan ampunan kepada Allah oleh segala sesuatu sampai oleh ikan-ikan di laut”. (HR. Ibn Abdul Bar dari Anas)
Orang yang miskin, tentu saja tidak dapat bersodaqoh, sebab untuk makan sendiri saja sudah susah, bagaimana bisa menyisakan sebagian hartanya untuk diberikan pada orang lain. Padahal sodaqoh merupakan amal yang sangat baik. Selain dapat membantu orang lain, orang yang bersodaqoh pula akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir (berisi) seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. al Baqoroh: 261)
Selain itu, tak jarang pula orang menukar keimannya hanya dikarenakan sesuap nasi. Wajar jika pepatah bijak mengatakan bahwa kemiskinan dapat mendekatkan kekufuran. Inilah kerugian dan keruntuhan kebahagiaan dunia yang akan mengantarkan pada pupusnya kebahagiaan akhirat.
Pada penjelasan di atas, dari satu poin saja (kemiskinan), dapat mendatangkan tiga kerugian. Pertama, rugi karena tidak dapat memenuhi kewajiban umat Islam, yaitu menuntut ilmu. Kedua, rugi karena tidak dapat melakukan amal yang sangat baik di mata Allah, yaitu sodaqoh. Ketiga, rugi karena tidak dapat menjaga keimanannya dikarenakan kebutuhan duniawi. Sebab tidak dapat dipungkiri, bahwa manusia, siapapun ia pasti memiliki naluri basyariah yang butuh makan, minum dan juga kebutuhan-kebutuhan duniawi lainnya.
Singkatnya, umat Islam, wajib berusaha keras untuk dapat memakmurkan kehidupan dirinya. Jika kehidupan dirinya sudah dapat termakmurkan, maka kehidupan orang lain, khususnya yang ada di sekitar lingkungannya pun dapat pula terbantu.
Ketiga, keterbelakangan.
Poin ketiga yang dapat meruntuhkan kebahagiaan manusia dunia dan akhirat adalah keterbelakangan. Keterbelakangan dalam hal ini ada dua macam, yaitu keterbelakangan di bidang duniawi seperti keterbelakangan teknologi, keterbelakangan pengetahuan, dan yang kedua keterbelakangan mental seperti sikap dan sifat merendahkan harkat derajatnya yang diniatkan untuk mendapat iba dan belas kasihan manusia lain seperti mengemis, mengamen, dll.
Keterbelakangan yang pertama adalah keterbelakangan di bidang duniawi yang juga tentunya akan mengantarkan manusia pada runtuhnya kebahagiaan duniawi. Contohnya, jika manusia tidak mengenal televisi, maka ia tidak akan dapat mengetahui dunia luar yang sangat indah. Artinya, ia buta dengan kondisi lingkungan dunia yang mampu terjangkau oleh mata kamera. Ia hanya bisa melihat dan merasakan apa yang dijangkau oleh matanya saja. Meskipun dalam penayangan televisi tidak semua bersifat positif, namun tayangan-tayangan demikian dapat pula kita jadikan pelajaran yang berharga.
Keterbelakangan yang kedua adalah keterbelakangan mental yang dilakukan manusia guna merendahkan dirinya di hadapan manusia lain. Hal ini termasuk ke dalam perihal yang dapat meruntuhkan kebahagiaan akhirat. Sebab jika manusia tidak berusaha menjaga harkat derajatnya, maka secara disadari ataupun tidak, manusia tersebut telah merendahkan Allah sebagai Sang Pencipta. Inilah keterbelakangan di bidang agama. Sebab ia tidak mengerti bagaimana mulianya manusia di mata makhluk-makhluk lain.
Dari uraian di atas, jelas bahwa kebodohan dapat mengantarkan pada kemiskinan dan juga keterbelakangan. Dengan menghubungkan kehidupan jasmani dengan kehidupan dunia, Al Ghazali mengatakan bahwa kehidupan dunia itu merupakan ladangnya bagi kehidupan di akhirat, dan merupakan salah satu manzilnya hidayah Allah. Oleh sebab itu kehidupan dunia adalah merupakan tangga bagi kehidupan akhirat, maka memelihara, membina, mempersiapkan dan memenuhi keperluannya agar tidak binasa adalah wajib. (Al Ghazali, 1994 : 9 ) Oleh karena itu, marilah dari sekarang giat menuntut ilmu, di manapun dan kapan pun. Sebab ilmu tidak mengenal batas usia. Ilmu datang pada siapa saja yang mau mempelajarinya. Semoga kita semua termasuk hamba-Nya yang mampu mewaspadai munculnya bahaya-bahaya yang dapat mengikis keimanan dan meruntuhkan kebahagiaan dunia dan akhirat seperti kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan. Aamiin.***
3 KUNCI SUKSES MANUSIA (DUNIA DAN AKHIRAT) Standar
Sukses di dunia dan akhirat adalah cita-cita seluruh umat manusia di dunia, tanpa terkecuali. Namun, tak banyak manusia yang tahu dengan kunci memasuki istana kesuksesan ini. Bahkan, tak sedikit manusia yang mengaku-ngaku tahu cara mendapatkan kesuksesan. Ada yang dengan mendatangi dukun, paranormal, orang pintar dll. Sukses pun terasa jauh dari jangkauan. Padahal, sukses pada hakikatnya sudah ada di depan mata kita. Ini pula prinsip Islam yang diajarkan pada pengikutnya. Yaitu mengolah tiga pilar utama yang dimiliki manusia. Ketiga pilar tersebut adalah iman, akal dan rasa. Inilah perisai bagi kesuksesan manusia dunia dan akhirat.
Pertama, iman.
Iman berarti meyakini Islam dalam hati sebagai agama paling benar, dibuktikan dengan pernyataan lidah, diwujudkan dalam perbuatan. “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. ”. (QS. al Baqoroh: 148)
Orang yang beriman memiliki definisi bahwa ia harus menjalankan segala perintah yang diimani. Misalkan dia mengaku sebagai penganut agama Islam, maka ia harus menjalankan segala perintah agama Islam, seperti shalat, zakat, puasa, dll. Artinya, Islam ditempatkan sebagai pijakan utama dalam meniti kehidupannya di dunia guna menuju kesuksesan akhirat. Iman berarti menjalankan apa yang terkandung dalam al Qur-an dan al Hadits. “Kutinggalkan untukmu dua pusaka, tidaklah kamu akan tersesat selamanya selama kamu masih berpegang teguh kepada keduanya, yaitu al Qur-an dan Sunnah Rasul-Nya”. (HR. Bukhori)
Jika seseorang sudah menjalankan Islam sesuai al Qur-an dan hadits, maka jaminan dari Allah adalah syurga dunia dan juga akhirat. Mengapa demikian? Sebab jika ia berdagang, maka ia akan menggunakan konsep-konsep berdagang seperti apa yang diajarkan al Qur-an dan hadits. Jika ia menjadi pegawai baik negeri maupun swasta, maka ia pun akan menggunakan konsep-konsep Islam yang kaffah. Jika ia menjadi pengajar, maka ia pun akan menggunakan konsep yang diajarkan Islam. Begitu juga dengan profesi-profesi yang lainnya. Inilah yang dikatakan iman dapat mengantarkan manusia pada kesuksesan dunia dan akhirat. Inilah kunci sesungguhnya bagi manusia untuk hidup bahagia di dunia dan mendapatkan syurga-Nya. Jika sudah menggunakan kunci ini, ia akan merasa damai dan tentram dalam meniti kehidupannya.
Kedua, akal.
Allah SWT memberikan bekal kepada seluruh penghuni bumi-Nya. Tidak hanya manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, pepohonan dsb. Semua diberi nikmat oleh-Nya dan manusia adalah makhluk Allah yang menerima daulat-Nya untuk menjadi kholifah fil ardh. “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. al Baqoroh: 30) Oleh karena itu, Allah pun memberikan bekal utama manusia yang dapat dijadikan sebagai senjata untuk mengolah alam ini. Senjata itu adalah akal. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. (QS. ali Imron: 190)
Akal memiliki peran terpenting dalam kehidupan manusia. Ia memberikan kontribusi paling dominan untuk mengolah apa yang ada di bumi-Nya. Manusia tidak akan berkembang seperti sekarang ini (era teknologi), jika tidak mengolah akal mereka. Manusia mampu menciptakan robot, komputer, televisi, radio, laptop, dan berbagai jenis hasil teknologi lainnya itu tidak lain karena mereka mengolah yang tersedia di bumi dengan akal. Orang yang tidak mampu sukses di dunia, maka perlu dicurigai tentang seberapa banyak ia menggunakan akalnya untuk mengolah bekal Tuhan ini. Apakah ia berhenti pada pemanfaatan sesaat ataukah mengolahnya untuk bisa mendapatkan kesuksesan yang lebih baik lagi. Semua itu tergantung pilihan manusia untuk menanfaatkan dan mengolah akal.
Allah SWT menjelaskan dalam beberapa ayat-Nya bahwa orang yang dapat sukses dunia adalah orang yang memiliki “sulthon”. Sebagian ulama mengartikan sulthon sebagai predikat bagi orang-orang yang mau menggunakan akal mereka. Orang yang berakal harus disertai juga dengan iman, sehingga apa yang ia lakukan dengan akalnya tidak berimplikasi buruk bagi kehidupan dunia dan juga ukhrowinya. “Rasul saw bersabda: Celaka bagi orang yang membaca ayat hanya semata membaca, dengan tidak memperhatikan kandungan di dalamnya” (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 1: 1981: h. 441). Artinya, dalam bertindak ia akan selalu memikirkan kehalalan dan keharaman dari apa yang telah ditentukan hukum Islam baginya. Jika sudah selaras antara akal dan iman, maka syurga adalah jaminan bagi mereka.
Ketiga, rasa.
Orang Jawa menyebut dimensi batin dengan istilah rasa. Rasa bukanlah sesuatu yang irasional. Sebaliknya, ia merupakan sesuatu yang pascarasional yang aktivitasnya lebih tinggi daripada akal rasional yang kita pergunakan untuk kalkulasi atau menjawab soal-soal ujian. Rasa akan muncul di saat seseorang telah usai menimbang dengan akal. Rasa akan muncul di saat orang mulai sadar akan kepercayaanya terhadap sang pemberi rasa (iman).
Salah satu contoh, jika tetangga kita sedang mengalami kesusahan atau kelaparan, maka rasa simpati itu akan muncul dan kemudian ia akan berusaha menggerakkan tangannya untuk membantu kesulitan tersebut dengan memberikan sesuatu sesuai kemampuannya. Inilah yang dikatakan rasa empati. Merasakan bukan berarti berpangku tangan. Namun lebih dari itu, merasakan berarti bertindak. Jika pun ia tidak mampu membantu dengan uluran tangannya, maka dengan rasa simpatinya ia akan menggerakkan tangan-tangan lain untuk ikut berempati pada tetangganya tersebut.
Rasa adalah aplikasi dari iman dan akal yang berarti amal. Melalui bantuan satu orang, Allah akan membukakan beberapa pintu lain yang lebih baik. Apalagi jika bantuan itu dilakukan secara bersama-sama, maka umat Islam di bumi ini tidak akan ada lagi yang kekurangan dan kelaparan. Di bumi ini tidak akan ada pengemis, pengamen, pengangguran dsb yang sedikitnya akan mencoreng umat Islam lainnya yang dapat dikategorikan sebagai golongan orang-orang berlebih. Semua akan terbantu diakibatkan semua umat Islam ikut membantu. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa membantu juga harus tepat sasaran. Selain menggunakan rasa simpati, kita juga dituntut untuk menggunakan akal,, yang berarti menimbang dengan teliti apakah bantuan kita tepat sasaran atau berhenti pada pihak yang salah. Inilah kunci sukses dunia dan akhirat setelah kita beriman dan menggunakan akal.
Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya ketiga kunci di atas agar kelak kita semua mendapatkan kesuksesan dunia dan akhirat. Amiin.***
Senin, 28 April 2014
MENJADI KREATIF & PRODUKTIF
Menjadi kreatif dan produktif pastilah merupakan impian semua eksperimenter. Untuk mencapai prestasi tersebut, pastilah diperlukan usaha keras. Pada dasarnya, yang berhak menilai prestasi seorang eksperimenter adalah masyarakat. Masyarakat cenderung melihat frekuensi keberhasilan mewujudkan ide untuk menilai produktivitas seorang eksperimenter. Sedangkan untuk menilai kreativitas eksperimenter, masyarakat cenderung melihat orisinalitas dan manfaat dari ide-ide yang berhasil diwujudkannya.
Tahap pertama yang harus dilakukan seorang penulis atau seorang eksperimenter / peneliti adalah menemukan gagasan atau ide tentang apa yang hendak ditulis atau diteliti. Sampai saat ini, saya belum pernah mendengar kabar kalau ada penulis atau peneliti yang berani mengatakan bahwa menemukan ide kreatif merupakan perkara yang mudah. Demikian juga, belum ada resep cespleng yang dapat digunakan setiap orang untuk menemukan ide cemerlang. Pengalaman masing-masing penulis atau peneliti dalam menemukan ide sangatlah beragam dan unik. Oleh karena itu, sangatlah sulit untuk membuat generalisasi yang dapat dipakai oleh semua orang pada semua kasus. Namun demikian, masih terdapat beberapa kesamaan yang setidaknya dapat dijadikan referensi untuk kita semua.
Setelah menemukan ide, tahap selanjutnya adalah mewujudkan ide tersebut. Pekerjaan paling berat dan sulit harus dilakukan pada tahap ini. Oleh karena itu kegagalan juga sering terjadi pada tahap realisasi ini.
Menyadari pentingnya dua tahapan di atas, maka saya mencoba untuk berbagi pengalaman tentang hal tersebut. Pengalaman saya ini sifatnya personal dan unik sehingga sangat mungkin tidak bisa ditiru atau dialami oleh orang lain. Walaupun demikian, pengalaman tersebut setidaknyadapat dijadikan sebagai bahan pembanding atau referensi terutama bagi para eksperimenter pemula. Untuk memperkaya khasanah kita, saya juga mengundang Anda para neter untuk menuliskan di forum ini tentang pengalaman Anda sebagai eksperimenter.
KRITERIA KREATIF
Kreatif tidak sama dengan waton bedo ( asal berbeda ). Menurut pendapat saya, suatu ide dapat dikatakan kreatif jika ide tersebut BARU ( singkatan dariBermanfaat, Asli, Realistis, dan Unggul ) :
1. Bermanfaat
Ide bernilai tinggi hanya jika berpotensi memberi manfaat bagi banyak orang atau masyarakat luas dalam mengatasi masalah yang mereka hadapi. Ide yang demikian, berpeluang besar untuk memberi keuntungan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat maupun penemunya.
Ide bernilai tinggi hanya jika berpotensi memberi manfaat bagi banyak orang atau masyarakat luas dalam mengatasi masalah yang mereka hadapi. Ide yang demikian, berpeluang besar untuk memberi keuntungan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat maupun penemunya.
2. Asli
Ide bernilai tinggi jika benar-benar asli ( orisinil ) bukan tiruan, curian atau jiplakan dari ide orang lain. Selain itu juga bukan merupakan duplikasi tanpa sengaja dari ide orang lain yang sudah lebih dulu diwujudkan dan atau dipublikasikan
Ide bernilai tinggi jika benar-benar asli ( orisinil ) bukan tiruan, curian atau jiplakan dari ide orang lain. Selain itu juga bukan merupakan duplikasi tanpa sengaja dari ide orang lain yang sudah lebih dulu diwujudkan dan atau dipublikasikan
3. Realistis
Ide sederhana yang relatif mudah diwujudkan sering kali jauh lebih berharga daripada ide muluk-muluk yang hanya merupakan otopia belaka.
Ide sederhana yang relatif mudah diwujudkan sering kali jauh lebih berharga daripada ide muluk-muluk yang hanya merupakan otopia belaka.
4. Unggul
Ide baru juga bernilai tinggi hanya jika mempunyai keunggulan komparatif dibandingkan teknik yang sudah ada atau cara yang sudah biasa digunakan sebelumnya. Sebagai contoh : lebih murah, lebih praktis, lebih ringan, lebih hemat, lebih enak, lebih aman, dan segala kebaikan yang lainnya.
Ide baru juga bernilai tinggi hanya jika mempunyai keunggulan komparatif dibandingkan teknik yang sudah ada atau cara yang sudah biasa digunakan sebelumnya. Sebagai contoh : lebih murah, lebih praktis, lebih ringan, lebih hemat, lebih enak, lebih aman, dan segala kebaikan yang lainnya.
MENUMBUHKAN KREATIVITAS
Ide kreatif tidak jatuh begitu saja dari langit ketika orang lagi bengong seperti mendapat wangsit. Prinsipnya, barang siapa tidak menanam maka dia tidak akan memetik hasilnya. Bibit-bibit ide kreatif perlu ditanam, dipupuk, dan disirami dalam diri kita selama bertahun-tahun bahkan selama hidup. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk hal tersebut antara lain :
1. Banyak membaca
Pada prinsipnya, mencari ide bukanlah mencari sesuatu yang berada di luar diri kita. Mencari ide adalah mencari sesuatu yang sudah ada dalam pikiran kita. Dengan banyak membaca, kita mengisi pikiran dengan bahan-bahan berupa potongan-potongan informasi yang dapat dianalogikan seperti mengumpulkan potongan-potongan puzzel. Bila rangkaian potongan-potongan puzzel informasi tersebut telah lengkap atau setidaknya hampir lengkap, maka akan tampak sebuah gambar/bentuk yang memiliki makna cukup jelas yang dapat berupa ide kreatif. Adapun potongan-potongan puzzel yang belum ada, harus dilengkapi pada saat mewujudkan ide tersebut. Bacaan tidak harus berupa buku, tetapi bisa majalah, koran, atau artikel-artikel dan jurnal-jurnal penelitian di internet. Yang penting, isinya bermutu dan sesuai dengan kebutuhan dan minat kita. Semakin banyak informasi bermutu yang kita peroleh, berarti semakin banyak potongan puzzel yang kita kumpulkan. Hal itu berarti peluang untuk mendapatkan ide kreatif semakin besar. Selain itu juga sangat membantu upaya menghindari duplikasi ( secara tidak sengaja ) ide dari orang lain yang sudah diwujudkan dan atau dipublikasikan lebih dahulu.
Pada prinsipnya, mencari ide bukanlah mencari sesuatu yang berada di luar diri kita. Mencari ide adalah mencari sesuatu yang sudah ada dalam pikiran kita. Dengan banyak membaca, kita mengisi pikiran dengan bahan-bahan berupa potongan-potongan informasi yang dapat dianalogikan seperti mengumpulkan potongan-potongan puzzel. Bila rangkaian potongan-potongan puzzel informasi tersebut telah lengkap atau setidaknya hampir lengkap, maka akan tampak sebuah gambar/bentuk yang memiliki makna cukup jelas yang dapat berupa ide kreatif. Adapun potongan-potongan puzzel yang belum ada, harus dilengkapi pada saat mewujudkan ide tersebut. Bacaan tidak harus berupa buku, tetapi bisa majalah, koran, atau artikel-artikel dan jurnal-jurnal penelitian di internet. Yang penting, isinya bermutu dan sesuai dengan kebutuhan dan minat kita. Semakin banyak informasi bermutu yang kita peroleh, berarti semakin banyak potongan puzzel yang kita kumpulkan. Hal itu berarti peluang untuk mendapatkan ide kreatif semakin besar. Selain itu juga sangat membantu upaya menghindari duplikasi ( secara tidak sengaja ) ide dari orang lain yang sudah diwujudkan dan atau dipublikasikan lebih dahulu.
2. Sering mengamati
Mengamati tidak sama dengan melihat. Mengamati adalah melihat dengan mata dan otak. Kebanyakan orang, kalau melihat sesuatu benda atau kejadian yang menarik akan berhenti pada melihat dan mengagumi saja. Seorang peneliti tidak hanya sampai di situ saja, tetapi kemudian berfikir bagaimana bisa, mengapa demikian, dan seterusnya. Latihan mengamati ini perlu dilakukan sebagai kebiasaan hidup dan bukan hanya dilakukan ketika hendak meneliti saja.
Mengamati tidak sama dengan melihat. Mengamati adalah melihat dengan mata dan otak. Kebanyakan orang, kalau melihat sesuatu benda atau kejadian yang menarik akan berhenti pada melihat dan mengagumi saja. Seorang peneliti tidak hanya sampai di situ saja, tetapi kemudian berfikir bagaimana bisa, mengapa demikian, dan seterusnya. Latihan mengamati ini perlu dilakukan sebagai kebiasaan hidup dan bukan hanya dilakukan ketika hendak meneliti saja.
3. Sering berdiskusi
Berdiskusi dengan orang lain yang mempunyai minat, pengetahuan dan skill pada bidang yang sama dengan kita sangat diperlukan untuk memperdalam dan memperluas wawasan. Namun demikian, diperlukan juga diskusi dengan orang dengan minat, pengetahuan dan skill pada bidang yang lain agar kita memiliki pemahaman yang lebih komprehensif pada aspek-aspek yang melingkupi bidang yang kita minati. Format diskusi tidak perlu formal seperti seminar atau diskusi panel. Obrolan santai sambil minum kopi justru sering lebih efektif. Manfaat serupa juga dapat diperoleh dengan mengikuti dan berpartisipasi aktif dalam forum-forum diskusi di internet.
Berdiskusi dengan orang lain yang mempunyai minat, pengetahuan dan skill pada bidang yang sama dengan kita sangat diperlukan untuk memperdalam dan memperluas wawasan. Namun demikian, diperlukan juga diskusi dengan orang dengan minat, pengetahuan dan skill pada bidang yang lain agar kita memiliki pemahaman yang lebih komprehensif pada aspek-aspek yang melingkupi bidang yang kita minati. Format diskusi tidak perlu formal seperti seminar atau diskusi panel. Obrolan santai sambil minum kopi justru sering lebih efektif. Manfaat serupa juga dapat diperoleh dengan mengikuti dan berpartisipasi aktif dalam forum-forum diskusi di internet.
4. Mendengar keluhan, kritik dan saran
Kalau kita bisa mendengar dan menyaring keluhan, kritik, dan saran dari orang lain, tidak jarang terdapat cikal bakal ide cemerlang yang tanpa sengaja mereka sampaikan kepada kita.
Kalau kita bisa mendengar dan menyaring keluhan, kritik, dan saran dari orang lain, tidak jarang terdapat cikal bakal ide cemerlang yang tanpa sengaja mereka sampaikan kepada kita.
5. Mengagumi dan menikmati alam
Sesekali menikmati keindahan alam seperti gunung, sungai, danau, hutan atau laut sering memberikan banyak inspirasi.
Sesekali menikmati keindahan alam seperti gunung, sungai, danau, hutan atau laut sering memberikan banyak inspirasi.
6. Berfikir tidak mengikuti mainstream
Perlu belajar untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda dengan yang dipikirkan dan dilakukan oleh kebanyakan orang. Namun tidak asal berbeda, tapi memiliki kelebihan dibandingkan dengan cara biasa. Menulis atau menikmati humor atau cerita lucu juga dapat membantu. Saya meyakini hal tersebut karena humor akan lucu kalau ada pembengkokan logika umum ( mainstream ) secara tiba-tiba dan tidak terduga.
Perlu belajar untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda dengan yang dipikirkan dan dilakukan oleh kebanyakan orang. Namun tidak asal berbeda, tapi memiliki kelebihan dibandingkan dengan cara biasa. Menulis atau menikmati humor atau cerita lucu juga dapat membantu. Saya meyakini hal tersebut karena humor akan lucu kalau ada pembengkokan logika umum ( mainstream ) secara tiba-tiba dan tidak terduga.
7. Berdoa dan mohon petunjuk dari Sang Pencipta
Segala usaha manusia tidak akan ada hasilnya jika tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.
Segala usaha manusia tidak akan ada hasilnya jika tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.
MENANGKAP IDE KREATIF
Seorang teman kuliah di Yogya berinisial HG yang beragama Budha dan berasal dari Kalbar pernah bercerita kepada saya tentang ilham. Kejadiannya kira-kira begini :
HG : “Jika ada seberkas cahaya yang melintas di langit di tengah lautan pada malam yang sunyi, seperti itulah ilham”.
Paijo : “Melintasnya apakah berkali-kali dan lama atau bagaimana ?”
HG : “Tidak, melintasnya sekali saja dan hanya sekejab mata”
Paijo : “Kalau seperti itu, bagaimana kita dapat menangkapnya ?”
HG : “Ya kita harus datang ke laut dan berjaga sepanjang malam karena kita tidak tahu cahaya tersebut melintas di langit sebelah mana dan waktunya kapan”
Paijo : “Cahaya tersebut melintas setiap malam atau hanya malam-malam tertentu saja ?“
HG : “Yang jelas tidak setiap malam, dan tidak bisa diketahui malam yang mana”
Paijo : “Melintasnya apakah berkali-kali dan lama atau bagaimana ?”
HG : “Tidak, melintasnya sekali saja dan hanya sekejab mata”
Paijo : “Kalau seperti itu, bagaimana kita dapat menangkapnya ?”
HG : “Ya kita harus datang ke laut dan berjaga sepanjang malam karena kita tidak tahu cahaya tersebut melintas di langit sebelah mana dan waktunya kapan”
Paijo : “Cahaya tersebut melintas setiap malam atau hanya malam-malam tertentu saja ?“
HG : “Yang jelas tidak setiap malam, dan tidak bisa diketahui malam yang mana”
Kemudian saya menceritakan kepadanya tentang kejadian yang saya alami ketika mendapatkan ide bagus. Setelah itu HG berkomentar bahwa apa yang saya alami tersebut merupakan pengalaman langka yang dialami hanya oleh segelintir orang yang sangat beruntung saja. Menurutnya, saya merupakan salah seorang yang dikaruniai kepekaan dan kemampuan untuk menangkap ilham tersebut. Sejak hari itu sampai sekarang, cerita kiasan tersebut ternyata telah banyak menyadarkan dan mengubah diri saya. Betapa tidak, kiasan tersebut menggambarkan betapa sukarnya menangkap ide, tapi saya telah terbukti dapat melakukannya berulang kali tanpa sengaja. Sampai hari itu, saya sendiri juga tidak mengerti bagaimana saya melakukannya. Sepertinya, semua terjadi begitu saja secara kebetulan. Sejak saat itu, saya berrtekad untuk tidak akan menyianyiakan karunia tersebut yang telah diberikan Tuhan kepada saya.
Sebagai seorang eksperimenter yang selalu penasaran, saya mencoba mencari referensi-referensi ilmiah atas apa yang saya alami tersebut dan saya berhasil mendapatkannya. Ternyata, hasil penelitian membuktikan bahwa otak tidak pernah berhenti bekerja selama pemiliknya masih hidup walaupun sedang tidur ataupun pingsan. Setelah pemiliknya mati sekalipun ( mati klinis = nafas dan jantung berhenti ), otak tidak langsung ikut mati. Jadi dapat disimpulkan bahwa otak akan terus menerus mencerna informasi-informasi yang diterimanya tanpa kita sadari. Akibatnya, kita tidak bisa mengetahui dengan tepat, kapan suatu rangkaian informasi telah selesai diproses dan menghasilkan sebuah ide baru. Namun demikian, masih ada kemungkinan untuk mengenali semacam sinyal atau tanda ketika ide baru tersebut akan muncul. Pengalaman saya, menjelang ide baru muncul biasanya ditandai dengan rasa gelisah dan keteganan ( stress ) yang meningkat tanpa sebab yang jelas. Kegelisahan atau ketegangan akan hilang dengan sendirinya ketika ide sudah muncul.
Yang sering menjadi masalah adalah waktu dan tempat munculnya ide yang tidak pernah dapat diduga-duga persis seperti dalam kiasannya. Waktunya bisa pagi, siang, sore, maupun malam. Boro-boro mau tau jamnya, bulan atau tahunnya saja tidak bisa diramalkan. Kadangkala selama bertahun-tahun tidak ada ide melintas, kadangkala dalam sebulan ada beberapa ide yang melintas. Sedangkan tempatnya bisa di dapur, kamar tidur, kamar mandi, kantor, pasar, bahkan di perjalanan. Singkatnya, kita tidak bisa memilih waktu dan tempatnya. Selain itu, durasinya sangat singkat dan tidak sepenuhnya dalam kontrol kesadaran kita ( mirip mimpi atau lamunan singkat ) sehingga cepat sekali hilang dari pikiran ( lupa total ) kalau terlambat sedikit saja untuk menyadari dan menangkap ide pokoknya. Perkiraan saya, kejadiaannya berlangsung sangat cepat dalam waktu kurang dari sepersepuluh detik. Hal tersebut seringkali membuat saya gagal menangkap ide yang muncul dan harus rela kehilangan ide tersebut mungkin untuk selamanya. Paling tidak, sampai saat ini saya belum pernah mengalami kemunculan ulang untuk ide yang pernah gagal ditangkap sebelumnya. Namun demikian, ada kemungkinan ide yang sama pernah muncul kembali dalam bentuk dan pengalaman yang berbeda dengan sebelumnya tanpa saya sadari. Segera setelah terjadi kegagalan seperti itu, saya sadar sepenuhnya bahwa barusan ada ide bagus yang melintas tapi tidak dapat mengingat sama sekali ide apa atau bahkan tentang apa. Benar-benar lupa total tentang apa yang barusan melintas di pikiran, ingat sepotongpun tidak. Karena penasaran, saya pernah beberapa kali mencoba memaksakan diri untuk mengingat-ingat yang melintas tersebut seharian selama beberapa hari, hasilnya juga nihil. Untuk menghindari kegagalan dalam menangkap ide berikutnya, biasanya saya berusaha untuk lebih waspada pada saat ada tanda-tanda akan munculnya ide. Pada saat ide tersebut muncul, biasanya berwujud seperti suara atau bayangan benda yang berkelebat sekilas di pikiran ketika sedang berfikir atau ketika sedang melakukan aktifitas sehari-hari. Untuk menangkapnya, saya lalu segera menghentikan segala aktifitas dan kemudian berfikir keras sejenak tentang apa yang barusan melintas di pikiran sampai ide tersebut tertangkap secara utuh. Untuk menghindari kelupaan, biasanya saya langsung membuat catatan atau sketsa di buku penuangan ide. Jika sedang tidak berada di rumah, saya biasanya menggunakan kertas seadanya. Jika kebetulan tidak ada sesuatupun untuk mencatat, saya visualisasikan di pikiran saya dalam waktu cukup lama dan berulang-ulang sampai saya yakin dapat mengingatnya sampai ada kesempatan untuk mencatat atau membuat sketsanya. Setelah ada waktu luang, barulah catatan atau sketsa yang saya buat tersebut dibuka kembali untuk difikirkan dan diuraikan secara lebih mendetail menjadi suatu desain. Tidak jarang terjadi bahwa ide yang sudah dicatat atau dibuat sketsanya, saya biarkan mengendap dan baru kemudian ditindaklanjuti dan diwujudkan bertahun-tahun kemudian karena ada kesenjangan yang lebar antara ide yang ada dengan kemampuan teknis yang saya kuasai. Meskipun demikian, ide tersebut tidaklah sia-sia karena jika tidak sempat saya wujudkan, masih dapat diwariskan kepada generasi penerus saya untuk diwujudkan. Jika suatu ketika ada orang lain yang lebih dahulu berhasil mewujudkan ide yang kebetulan sama dengan ide saya, maka saya memberi tanda pada catatan atau sketsa ide tersebut untuk menghindari duplikasi.
Untuk memberikan gambaran yang lebih nyata, saya akan ceritakan beberapa kejadian yang saya alami dalam menangkap ide yang saya masih bisa mengingat detail kejadiannya :
1. Kincir tongkat jungkat-jungkit ( sekitar tahun 1976 )
Idenya muncul pada siang hari ketika saya menjaga padi di sawah sambil bermain-main dengan sebuah tongkat penggembala itik yang terbuat dari bambu. Yang melintas berupa bayangan berbentuk bambu runcing, jungkat-jungkit dan pancuran. Ide tersebut sudah terwujud dan sampai sekarang sudah mengalami 2 kali penyempurnaan.
Idenya muncul pada siang hari ketika saya menjaga padi di sawah sambil bermain-main dengan sebuah tongkat penggembala itik yang terbuat dari bambu. Yang melintas berupa bayangan berbentuk bambu runcing, jungkat-jungkit dan pancuran. Ide tersebut sudah terwujud dan sampai sekarang sudah mengalami 2 kali penyempurnaan.
2. Booster mesin ( sekitar tahun 1983 )
Idenya muncul ketika saya naik bis dari Muntilan ke Magelang, persisnya di depan Rumah Makan Cindelaras sebelum jembatan kali Belan. Yang melintas berupa bayangan sebuah pompa yang menghubungkan karburator dengan mesin mobil. Beberapa bulan kemudian, saya baru menyadari bahwa sudah ada orang lain yang lebih dahulu menemukan yang disebut dengan tubin booster ( turbo ). Bedanya, ide saya menggunakan piston dan bukan turbin. Selain itu, variabel yang mengatur kerja booster bukan tekanan gas buang melainkan beban torsi dan RPM pada poros mesin. Ide tersebut saya petieskan karena merupakan duplikasi dari ide orang lain yang sudah lebih dahulu diwujudkan dan dipatentkan.
Idenya muncul ketika saya naik bis dari Muntilan ke Magelang, persisnya di depan Rumah Makan Cindelaras sebelum jembatan kali Belan. Yang melintas berupa bayangan sebuah pompa yang menghubungkan karburator dengan mesin mobil. Beberapa bulan kemudian, saya baru menyadari bahwa sudah ada orang lain yang lebih dahulu menemukan yang disebut dengan tubin booster ( turbo ). Bedanya, ide saya menggunakan piston dan bukan turbin. Selain itu, variabel yang mengatur kerja booster bukan tekanan gas buang melainkan beban torsi dan RPM pada poros mesin. Ide tersebut saya petieskan karena merupakan duplikasi dari ide orang lain yang sudah lebih dahulu diwujudkan dan dipatentkan.
3. Jemuran Pintar ( sekitar tahun 1984 )
Idenya muncul malam hari ketika duduk di teras. Yang melintas berupa bayangan rel gorden yang digantungi hanger dan baju. Ide tersebut baru ditindaklanjuti dan terwujud 21 tahun kemudian dan berhasil menjadi finalis peringkat 1 lomba LED 2005 tingkat nasional yang diselenggarakan oleh jurusan Teknik Elektro dan Informatika ITB.
Idenya muncul malam hari ketika duduk di teras. Yang melintas berupa bayangan rel gorden yang digantungi hanger dan baju. Ide tersebut baru ditindaklanjuti dan terwujud 21 tahun kemudian dan berhasil menjadi finalis peringkat 1 lomba LED 2005 tingkat nasional yang diselenggarakan oleh jurusan Teknik Elektro dan Informatika ITB.
4. Kolektor sinarmatahari sistim cluster dengan autotracking ( sekitar tahun 1995 )
Idenya muncul malam hari ketika sedang membuat gambar lingkaran menggunakan jangka. Yang melintas berupa bayangan antena parabola yang ditempelkan pada pegangan jangka. Ide tersebut rencananya akan saya buat prototypenya sekitar 2-3 tahun yang akan datang.
Idenya muncul malam hari ketika sedang membuat gambar lingkaran menggunakan jangka. Yang melintas berupa bayangan antena parabola yang ditempelkan pada pegangan jangka. Ide tersebut rencananya akan saya buat prototypenya sekitar 2-3 tahun yang akan datang.
5. Program komputer ( sekitar tahun 2000 )
Masalah pemrograman yang sudah buntu selama lebih dari 1 minggu padahal dikejar deadline. Ide solusinya muncul ketika di perjalanan pulang dari tempat kerja. Yang melintas berupa bayangan tulisan / rumus dan suara mengeja tulisan tersebut. Teman sekantor yang saya bonceng sempat bingung ketika saya tiba-tiba menghentikan motor di pinggir jalan dekat lapangan golf. Mulai hari kerja berikutnya, pemrograman lancar berkat menggunakan ide tersebut.
Masalah pemrograman yang sudah buntu selama lebih dari 1 minggu padahal dikejar deadline. Ide solusinya muncul ketika di perjalanan pulang dari tempat kerja. Yang melintas berupa bayangan tulisan / rumus dan suara mengeja tulisan tersebut. Teman sekantor yang saya bonceng sempat bingung ketika saya tiba-tiba menghentikan motor di pinggir jalan dekat lapangan golf. Mulai hari kerja berikutnya, pemrograman lancar berkat menggunakan ide tersebut.
6. Mesin Paijo generasi ke-2 ( Jumat, 28 Juli 2006 )
Merupakan penyempurnaan dari percobaan pertama yang belum berhasil dan tidak ada perkembangan selama lebih dari 5 tahun. Idenya muncul pada pagi hari ( sekitar jam 06.15 ) ketika sedang mandi. Yang melintas berupa bayangan prototype mesin pertama, pompa hidram dan ekor kucing silih berganti. Ide tersebut sedang dalam tahap pembuatan prototype ( sudah selesai sekitar 75 % ). Cerita lengkap kejadiannya ada di halaman MESIN STX-2.
Merupakan penyempurnaan dari percobaan pertama yang belum berhasil dan tidak ada perkembangan selama lebih dari 5 tahun. Idenya muncul pada pagi hari ( sekitar jam 06.15 ) ketika sedang mandi. Yang melintas berupa bayangan prototype mesin pertama, pompa hidram dan ekor kucing silih berganti. Ide tersebut sedang dalam tahap pembuatan prototype ( sudah selesai sekitar 75 % ). Cerita lengkap kejadiannya ada di halaman MESIN STX-2.
7. Sepeda bermesin ( Okt 2006 )
Idenya aneh karena mesinnya tidak memutar roda atau baling-baling, bahkan tanpa rotor sama sekali. Idenya muncul malam hari ketika sedang cerita dengan anak saya tentang sepeda. Yang melintas berupa bayangan meriam bambu yang dipanggul seperti memanggul bazoka. Yang unik, desain mesin sepeda yang dimaksud ternyata tidak berhubungan dengan bentuk maupun cara kerja meriam bambu, melainkan modifikasi dari Mesin Paijo generasi ke-2 tersebut di atas. Prototype akan dibuat segera sesudah proyek Mesin Paijo selesai.
Idenya aneh karena mesinnya tidak memutar roda atau baling-baling, bahkan tanpa rotor sama sekali. Idenya muncul malam hari ketika sedang cerita dengan anak saya tentang sepeda. Yang melintas berupa bayangan meriam bambu yang dipanggul seperti memanggul bazoka. Yang unik, desain mesin sepeda yang dimaksud ternyata tidak berhubungan dengan bentuk maupun cara kerja meriam bambu, melainkan modifikasi dari Mesin Paijo generasi ke-2 tersebut di atas. Prototype akan dibuat segera sesudah proyek Mesin Paijo selesai.
MERALISASIKAN IDE
Setelah ide kreatif berhasil ditangkap, pekerjaan belum selesai. Pekerjaan besar justru baru dimulai setelah adanya ide kreatif tersebut. Thomas A. Edison mengatakan :”Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras. Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan”. Ibarat orang berjalan, mempunyai ide kreatif barulah merupakan langkah pertama dan masih ada 99 langkah selanjutnya yang harus dijalani jika mau sukses. Namun demikian, ide kreatif sangatlah penting karena tidak mungkin ada langkah ke-2 sampai langkah ke-100 jika tidak ada langkah pertama.
Untuk mewujudkan sebuah ide kreatif, perlu usaha keras pantang menyerah. Terutama untuk ide yang rumit, canggih, dan perlu biaya banyak. Adapun kiat-kiat yang dapat dilakukan untuk melancarkan pekerjaan berat tersebut antara lain :
1. Membentuk team kerja
Untuk ide yang sederhana, dapat dikerjakan sendiri tanpa banyak hambatan. Sedangkan untuk ide yang rumit, canggih, dan perlu biaya besar, lebih bijaksana kalau dikerjakan oleh team. Prinsipnya musti win-win solution. Pembagian tugas selayaknya disertai dengan pembagian hasil yang adil. Jika perlu, gunakan konsultan ahli untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah yang berada di luar kemampuan team. Pengetahuan dan ketrampilan dari masing-masing anggota team hendaknya beraneka macam sehingga saling melengkapi satu sama lain.
Untuk ide yang sederhana, dapat dikerjakan sendiri tanpa banyak hambatan. Sedangkan untuk ide yang rumit, canggih, dan perlu biaya besar, lebih bijaksana kalau dikerjakan oleh team. Prinsipnya musti win-win solution. Pembagian tugas selayaknya disertai dengan pembagian hasil yang adil. Jika perlu, gunakan konsultan ahli untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah yang berada di luar kemampuan team. Pengetahuan dan ketrampilan dari masing-masing anggota team hendaknya beraneka macam sehingga saling melengkapi satu sama lain.
2. Membuat rencana kerja
Rencana kerja yang detail dan jelas akan membantu meningkatkan efektifitas dan efisiensi waktu dan sumber daya yang ada. Peran flowchart dan time table sangat membantu untuk menentukan alur tercepat jika ada beberapa pekerjaan yang dapat dilakukan secara simultan.
Rencana kerja yang detail dan jelas akan membantu meningkatkan efektifitas dan efisiensi waktu dan sumber daya yang ada. Peran flowchart dan time table sangat membantu untuk menentukan alur tercepat jika ada beberapa pekerjaan yang dapat dilakukan secara simultan.
3. Mencari dana
Tanpa dana yang cukup, pekerjaan tidak mungkin dapat dilakukan. Dana dapat bersumber dari kantong sendiri atau dari donatur ( sponsor ). Untuk meyakinkan donatur atau sponsor, musti ada dulu team kerja yang solid dan rencana kerja yang baik. Tanpa itu, tidak mungkin ada donatur atu sponsor yang bersedia mengucurkan dananya. Jika dana bersumber dari donatur atau sponsor, perlu diperhatikan perjanjian bagi hasil dan resiko yang adil dan transparan kecuali dana hibah. Hal itu untuk menghindari sengketa di kemudian hari.
Tanpa dana yang cukup, pekerjaan tidak mungkin dapat dilakukan. Dana dapat bersumber dari kantong sendiri atau dari donatur ( sponsor ). Untuk meyakinkan donatur atau sponsor, musti ada dulu team kerja yang solid dan rencana kerja yang baik. Tanpa itu, tidak mungkin ada donatur atu sponsor yang bersedia mengucurkan dananya. Jika dana bersumber dari donatur atau sponsor, perlu diperhatikan perjanjian bagi hasil dan resiko yang adil dan transparan kecuali dana hibah. Hal itu untuk menghindari sengketa di kemudian hari.
4. Kerja keras
Supaya sukses, kita perlu kerja keras dengan mengerahkan segenap kemampuan secara 100 %. Jika tidak, maka kegagalan sudah menghadang di depan mata. Bagian ini sangat berat karena belum ada seorangpun yang berpengalaman membuat alat atau benda yang sedang kita kerjakan. Justru kitalah orang pertama yang akan memiliki pengalaman tersebut.
Supaya sukses, kita perlu kerja keras dengan mengerahkan segenap kemampuan secara 100 %. Jika tidak, maka kegagalan sudah menghadang di depan mata. Bagian ini sangat berat karena belum ada seorangpun yang berpengalaman membuat alat atau benda yang sedang kita kerjakan. Justru kitalah orang pertama yang akan memiliki pengalaman tersebut.
5. Menjaga semangat kerja
Menjaga agar tetap semangat dalam menghadapi berbagai kesulitan sangatlah penting. Sebelum dan selama bekerja, perlu ditanamkan keyakinan bahwa ide tersebut mungkin untuk diwujudkan. Harapan untuk memperoleh keuntungan ekonomi jika proyek berhasil bukanlah hal yang tabu dan terbukti cukup kuat mempertahankan semangat kerja. Namun yang paling kuat adalah jika kita bisa menikmati pekerjaan tersebut tanpa memikirkan untung ruginya. Pesta kecil untuk merayakan keberhasilan ujicoba komponen atau bagian alat juga dapat membantu memelihara semangat kerja.
Menjaga agar tetap semangat dalam menghadapi berbagai kesulitan sangatlah penting. Sebelum dan selama bekerja, perlu ditanamkan keyakinan bahwa ide tersebut mungkin untuk diwujudkan. Harapan untuk memperoleh keuntungan ekonomi jika proyek berhasil bukanlah hal yang tabu dan terbukti cukup kuat mempertahankan semangat kerja. Namun yang paling kuat adalah jika kita bisa menikmati pekerjaan tersebut tanpa memikirkan untung ruginya. Pesta kecil untuk merayakan keberhasilan ujicoba komponen atau bagian alat juga dapat membantu memelihara semangat kerja.
6. Evaluasi dan pengujian
Setelah melewati tahap-tahap tertentu yang sudah direncanakan, musti dilakukan evalusi proses dan hasil kerja untuk peningkatan mutu proses pada tahap berikutnya. Pengujian komponen alat juga harus dilakukan secara bertahap begitu komponen tersebut selesai. Dengan cara ini, kegagalan yang tidak perlu dan konyol dapat dicegah.
Setelah melewati tahap-tahap tertentu yang sudah direncanakan, musti dilakukan evalusi proses dan hasil kerja untuk peningkatan mutu proses pada tahap berikutnya. Pengujian komponen alat juga harus dilakukan secara bertahap begitu komponen tersebut selesai. Dengan cara ini, kegagalan yang tidak perlu dan konyol dapat dicegah.
7. Mengasah gergaji
Ini adalah kiasan untuk sentiasa mempertajam pengetahuan dan ketrampilan untuk menjembatani kesenjangan antara pengetahuan dan ketrampilan teknis yang kita kuasai dibandingkan dengan tingkat kecanggihan dan kompleksitas ide kreatif yang akan diwujudkan. Untuk melakukannya perlu usaha keras selama bertahun tahun terutama jika kesenjangannya cukup jauh. Pembentukan team kerja dan penggunaan konsultan dapat membantu mengatasi kesenjangan yang takterjembatani namun perlu tambahan biaya.
Mengasah gergaji tersebut bukan baru dilakukan setelah ada ide, melainkan dilakukan terus-menerus untuk sebanyak mungkin bidang kerja yang sering melingkupi masalah-masalah yang kita minati untuk diteliti. Sebagai contoh, untuk eksperimenter teknologi tepat guna seperti saya, sebaiknya mempelajari mekanika, termofisika, termodinamika, elektronika, listrik dasar, logika, kimia dasar, ekonomi, komputer, gambar teknik, dsb. Jika tidak bisa menguasai sampai mendetail, setidaknya dasar-dasarnya. Adapun ketrampilan yang perlu dikuasai adalah semua skill yang berhubungan dengan pekerjaan kayu, logam, dan bangunan. Jika tidak bisa sampai mahir, setidaknya terampil.
Ini adalah kiasan untuk sentiasa mempertajam pengetahuan dan ketrampilan untuk menjembatani kesenjangan antara pengetahuan dan ketrampilan teknis yang kita kuasai dibandingkan dengan tingkat kecanggihan dan kompleksitas ide kreatif yang akan diwujudkan. Untuk melakukannya perlu usaha keras selama bertahun tahun terutama jika kesenjangannya cukup jauh. Pembentukan team kerja dan penggunaan konsultan dapat membantu mengatasi kesenjangan yang takterjembatani namun perlu tambahan biaya.
Mengasah gergaji tersebut bukan baru dilakukan setelah ada ide, melainkan dilakukan terus-menerus untuk sebanyak mungkin bidang kerja yang sering melingkupi masalah-masalah yang kita minati untuk diteliti. Sebagai contoh, untuk eksperimenter teknologi tepat guna seperti saya, sebaiknya mempelajari mekanika, termofisika, termodinamika, elektronika, listrik dasar, logika, kimia dasar, ekonomi, komputer, gambar teknik, dsb. Jika tidak bisa menguasai sampai mendetail, setidaknya dasar-dasarnya. Adapun ketrampilan yang perlu dikuasai adalah semua skill yang berhubungan dengan pekerjaan kayu, logam, dan bangunan. Jika tidak bisa sampai mahir, setidaknya terampil.
Demikian pengalaman yang dapat saya bagikan kepada para neter dan semoga bermanfaat.
Bagaimana Ide Kreatif Bekerja & Menjadi Sukses
Bagaimana Ide Kreatif Bekerja & Menjadi
Sukses
Ide kreatif itu datangnya darimana ? Jatuh dari langit
atau jatuh dari pohon ? Atau, dapat wangsit di bawah
pohon beringin ? Atau juga perlu bertapa di puncak
Gunung Merapi atau Gunung Kawi ? he..he. Bahkan
banyak cerita yang mengungkapkan bagaimana ide
muncul dari aktifitas yang sangat sederhana.
Nah, berikut adalah sebagian fenomena bagaimana ide
itu didapatkan dan bekerja untuk menghasilkan sebuah
karya. Dan ada orang yang pernah bilang : “Ide
seringkali muncul tatkala kita melakukan sesuatu”.
IDE dari Fenomena Alam
Issacc Newton yang menemukan teori gravitasi hanya karena sebuah apel yang jatuh ketika ia sedang duduk
dibawah pohon apel. Padahal berapa banyak orang yang sudah melihat bahkan kejatuhan buah apel sebelum
Newton. Nyatanya mereka tidak bisa memanfaatkan hal tersebut sebagimana Newton.
Dalam buku bertajuk asli Isaac Newton karya James Gleick, diceritakan bahwa kejadian jatuhnya buah apel
mengilhami Newton untuk menemukan hukum yang kemudian terkenal dengan nama “Hukum Gaya Berat
(Gravitasi) Newton (1687)”.
Selain teori gravitasi, Newton juga mewariskan kepada kita konsep tentang spektrum cahaya. Ia juga tercatat
sebagai penemu teleskop refleksi. Begitu pula dengan hukum geraknya yang mampu menjelaskan banyak hal
mengenai orbit benda-benda angkasa, termasuk bumi kita.
“Aku tidak tahu bagaimana dunia memandang diriku,” katanya sebelum meninggal, “tetapi aku sendiri
memandang diriku seperti seorang bocah yang bemain pasir di pantai, asyik mencari batuan halus serta
kerang-kerang cantik, sementara lautan kebenaran mahaluas tak terjamah olehku”
IDE dari Fenomena Masyarakat
Penulis kenamaan Amerika Serikat, Ernest Hemingway (1899-1961) yang pernah memperoleh Nobel,
adalah salah satu tipe orang yang cerdas dalam mengolah sebuah fenomena atau peristiwa yang terjadi di
tengah masyarakat.
5/6/2014 Bagaimana Ide Kreatif Bekerja & Menjadi Sukses | Arif Prasetyo Aji
http://www.arifprasetyo.com/bagaimana-ide-kreatif-bekerja-menjadi-sukses 2/6
Dia merenungkan suatu fenomena dan menganalisa peristiwa tersebut, kemudian dituangkan dalam salah
satu karya masterpiece-nya yang berjudul “The Old Man and The Sea”. Novel yang menceritakan tentang
nelayan tua miskin itu tercipta lantaran kesenangannya berburu dan menankap ikan.
Dalam kesempatan lain, seorang ahli psikologi islam, H. Fuad Anshori mengatakan :
”Perjalanan saya ke berbagai pulau menyebabkan saya menemukan banyak permasalahan yang menarik
untuk diangkat menjadi buku”
“Bete”-pun bisa menghasilkan KARYA
Seorang penulis yang pernah dimiliki bangsa ini, Pramoedya Ananta Toer pernah keluar masuk penjara dan
mendekam puluhan tahun di Pulau Buru lantaran berbeda ideologi dengan rezim orde baru.
Tentulah beliau mengalami perasaan BT dalam penjara yang pengap selama puluhan tahun. Tapi anehnya,
dalam kondisi kehidupan yang tidak bebas dan perasaan tertekan itu beliau tidak mengalami mati kreatifitas.
Justru, ketika dalam penjara inilah, Pramoedya Ananta Toer menghasilkan karya tetralogi yang terkenal itu :
Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Karya-karya tersebut diterbitkan
berulang kali dan terus diburu oleh pembaca hingga saat ini.
Begitupula yang pernah dialami oleh Alexander Solzentyn, sastrawan Rusia yang dipenjara dengan kerja
paksa dan diusir ke luar negeri oleh penguasa Stalin. Tetapi dalam pengusiran itu Solzentyn tetap menulis,
sampai akhirnya ia dianugerahi hadiah Nobel Sastra dari panitia Nobel di Stockholm-Swedia.
Bahkan seorang sastrawan dan ulama kenamaan Mesir, justru menghasilkan karya populernya ketika berada
dalam kungkungan penjara, diantaranya adalah yang sangat fenomenal itu yang ditulisTafsir Qur’an Fii
Dzilalil Qur’an (Di bawah Naungan Qur’an) Sayid Qutub ketika di dalam penjara.
Dari ”ketidakpuasan” menjadi BISNIS BARU
Virgin Atlantic Airways, adalah salah sebuah perusahaan penerbangan terkemuka yang menjadi pesaing
British Airways yang didirikan Richard Branson. Tahukah anda bahwa perusahaan tersebut didirikan hanya
karena pendirinya terlantar penerbangannya pada saat dia sedang berlibur di Beef Island (gugusan Virgin
Islands) ?
Daripada membiarkan dirinya frustasi seperti wisatawan lainnya, dia tidak mau kehilangan waktu sedikitpun
dan memikirkan solusi yang akhirnya menghasilkan bisnis baru bernilai jutaan dolar.
Dia bertanya kepada drinya ”Bagaimana saya mendapatkan solusi, bahkan mendapatkan uang dari
peristiwa seperti ini ? Aha ! Sewa saja sebuah pesawat untuk menerbangkan dirinya dan istrinya serta
ratusan penumpang lain yang terlantar itu.”
Jadi, Branson tidak kehilangan waktunya dan ia hanya membutuhkan $2.000 untuk menyewa sebuah
pesawat. Akhirnya ia berfikir cepat dengan membagi $2.000 dengan jumlah tempat duduk di dalam pesawat.
Kemudian ia membuat tulisan di papan tulis, ”Virgin Airways : $39 sekali penerbangan ke Puerto Rico”
Ia berjalan diseputar bandara dan dalam beberapa menit ia telah berhasil menjual semua tempat duduk yang
ada. Branson tidak hanya menemukan solusi untuk dirinya dan istrinya untuk kembali ke ibukota, tetapi ia
juga telah menemukan cara membuat orang lain membiayai perjalanan wisata mereka. Nah, mau bisnis apa
Langganan:
Postingan (Atom)


