Senin, 15 September 2014

10 Cara Mengungkap Kebohongan Seseorang

10 Cara Mengungkap Kebohongan Seseoran

Berbohong adalah pekerjaan yang sulit.
Dimana seseorang harus menjaga keselarasan dalam segala tanda-tanda kebohongan; tanda-tanda di wajah, gerakan tubuh / gestur, gerakan kaki; begitu sulitnya menjadi penipu. Untuk berbohong dengan jujur (berbohong yang dapat dipercayai), Anda harus menjaga semua detail dari seluruh cerita Anda dengan selaras. Tidak hanya itu, Anda harus menceritakannya dengan bahasa tubuh yang sesuai. Anda harus menjaga keseluruhan segala tanda-tanda emosional yang dapat menyebabkan gagalnya kebohongan.

Sangat sulit menceritakan cerita palsu, dan pasti Anda berpikir bahwa akan mudah untuk menangkap pelaku kebohongan. Itu tidak benar, karena para ahli pun masih sering salah dalam menilai pelaku kebohongan, karena kebohongan itu ada banyak macam, dan kejujuran hanya ada satu macam.

Jadi apa yang dapat dilakukan? Dengarkan lebih dalam, untuk para pemula. Ketika pembohong lebih cenderung menggunakan kata-kata daripada bahasa tubuh atau body language. Ada banyak sekali tanda kebohongan itu bocor, mulai dari pemilihan kata, tinggi rendahnya nada suara, sampai alur ceritanya.

Berikut adalah 10 cara yang sering digunakan pembohong untuk memalsukan atau membelokkan kebenaran, so Anda dapat lebih dapat lebih sadar terhadap kebohongan di sekitar Anda:
Pembohong akan mengulangi pertanyaan dengan pertanyaan yang sama.Hei Joni, apakah kamu sudah mengirim email ke Andi? Apakah aku sudah mengirim email ke Andi? Kalau ini adalah respon dari si Joni, Anda mendapatkan jawabannya-dia belum mengrimkannya. Mengulangi pertanyaan dengan lengkap sama dengan pertanyaan yang diajukan adalah taktik untuk memberi waktu kepada si pembohong untuk mendapatkan beberapa waktu berpikir untuk mencari jawaban palsu. Dalam percakapan alami, orang akan mengulangi beberapa bagian dari pertanyaan saja, ini wajar terjadi. Namun ketika mengulangi semua bagian dari pertanyaan ini adalah hal yang aneh dan sebenarnya tidak perlu-mereka telah mendengar Anda pertama kali.
Pembohong akan memakai nada bertahan. Jika Joni langsung menjawab pertanyaan dengan merendahkan suaranya dan bertanya, apa maksudmu?,suatu kebohongan mungkin sedang dalam proses pengerjaan. Jawaban secara curiga atau pertahanan seperti ini tidak biasanya disebut jika hendak mengatakan kejujuran, dan mengindikasikan bahwa dia sedang menutupi sesuatu-apakah itu adalah kejujuran atau sikapnya kepada Anda ketika bertanya pertama kali.
Pembohong tidak akan menggunakan kata-kata singkat dalam pengelakannya. Bill Clinton merupakan salah satu contoh klasik terhadap apa yang pemeriksa (interrogator) sebut “non-contracted denial” atau penyangkalan dengan cara memperpanjang kata-kata yang seharusnya dapat disampaikan secara singkat. Ketika Bill Clinton mengatakan “I did not have sexual relationship with that woman” penambahan ekstra penegasan yang tidak perlu tidak akan ditemui pada pernyataan jujur. Ia mungkin akan dinyatakan jujur jika mengatakan “I didn’t have sex with her” – lebih singkat tanpa tambahan kata-kata penegasan yang tidak perlu. Clinton berbicara lebih banyak daripada yang ia sadari ucapkan.
Pembohong bercerita dalam kronologi yang kaku. Untuk membuat ceritanya lurus, pembohong melaporkan cerita secara berurutan dan kaku. Mereka tidak ingin diketahui detail-detail lain dari ceritanya, sehingga mereka menceritakan secara detail bahkan saat tidak ditanyakan. Tapi hal seperti ini tidak biasanya ditemui pada pembicaraan yang wajar atau jujur. Kita bercerita seingat kita, dan wajar ketika kita menambahkan detail-detail lain dibagian-bagian tertentu yang kita lewatkan sebelumnya. Karena hal tersebut wajar dalam proses pengingatan informasi, karena mengingat suatu kejadian sangat dekat halnya dengan emosi yang dirasakan pada saat itu. Seringnya adalah kita menceritakan sesuatu yang kita anggap paling emosional, bukan pada segala detail-detail yang kaku.
Pembohong suka memperhalus kata. Sangat manusiawi sekali jika kita tidak ingin terlibat dalam perbuatan yang salah. Ini sangat berhubungan dengan kebohongan, siapa yang tidak malu untuk mengakui perbuatan salahnya. Itu sebabnya mereka menggunakan kata-kata yang lebih halus-daripada mengatakan “aku tidak mencuri dompet itu” mereka mungkin akan mengatakan “aku tidakmengambil dompet itu”. Jika suatu saat Anda bertanya secara langsung kepada seseorang dalam suatu kejadian lalu ia mengganti kata-kata Anda dengan kata-kata yang lebih halus, siap-siap pasang antenna sinyal kebohongan!
Pembohong melebih-lebihkan (me-lebay-kan) kejujuran mereka. “Jadi inilah sejujurnya…” “Sejujurnya…” “Aku bersumpah padamu…” ya, ketika seseorang menggunakan pernyataan demikian sebelum mengatakan sesuatu yang ia anggap kejujuran, maka ini adalah kesempatan baik untuk mereka menyembunyikan sesuatu. Belajar kepada hal dasar dari perilaku seseorang merupakan sesuatu yang penting dalam situasi ini, antara lain: yang ingin Anda dengar apakah jawaban normal ataukah penggunaan frasa/kata yang dapat menyinggung Anda? Tidak perlu untuk menambah pernyataan seperti diatas ketika seseorang ingin berkata jujur, jadi tetaplah waspada.
Pembohong menggunakan “kata ganti orang” yang membingungkan. Dalam berbicara sehari-hari kita hampir tidak memperdulikan kata ganti orang. Namun pembohong dalam aksinya, ia tidak ingin kebohongannya terbongkar, oleh karena itu ia menggukanan kata ganti orang dengan sangat cermat dan teliti. Ia mungkin mengatakan “kamu tidak menuntut gaji ketika kamu tidak kerja kan?” daripada mengatakan dengan jelas “aku tidak minta gaji kalau aku tidak kerja”
Pembohong menggunakan pendahuluan yang panjang namun memendekkan inti kejadiannya. Ketika pembohong ingin membangun kredibilitas, dia akan memberi kesan bahwa ia menceritakan fakta sebanyak mungkin. Seorang peneliti Avionam Sapir menemukan bahwa orang yang seorang penipu akan menambah banyak detail dan fakta di prolog mereka, tapi hampir meniadakan atau memendekkan pesan inti yang seharusnya disampaikan. Pendengar yang jeli dapat melihat bagian yang janggal ini, dan ia dapat bertanya kepada detail yang tak tersampaikan pada inti cerita dari si pembohong.
Pembohong memberi penyangkalan sangat spesifik. Kita telah berdiskusi di atas, bahwa seseorang pada dasarnya tidak ingin diketahui jika ia melakukan kesalahan. Jadi kita dapat kita lihat bahwa pembohong menyampaikan ceritanya adalah dalam bentuk bagian demi bagian, bukan secara langsung membuka semuanya. “aku tidak berbohong padamu” itu adalah pernyataan dari kejujuran, dan kebohongan biasanya akan mengatakan “aku sama sekali tidak pernah membohongi seorangpun seumur hidupku”, dapat disimpulkan lebih lebay dan lebih tertata.
Pembohong memberi pagar pada pernyataan mereka. Ini sering terdengar pada kesaksian di pengadilan, tokoh-tokoh politik yang sering kita dengar,dan hampir tiap saat dalam acara-acara interview di TV. Mereka yang duduk pada kursi panas tersebut memberikan pernyataan “sejauh yang saya ingat…” “jika Anda benar-benar mengerti maka…” “yang saya ingat adalah…” pernyataan dengan “pagar” atau bendungan ini tidak sepenuhnya menjadi indikator kebohongan, namun penggunaan yang berlebihan dapat dicurugai bahwa seseorang itu tidak benar-benar lupa terhadap apa yang ia sampaikan, namun ia hanya ingin merasa aman ketika mengatakan hal tersebut. Karena jika kelak ada tuntutan, ia dapat dengan mudah berkata bahwa dahulu ia mengatakan apa yang ia ingat pada saat itu.
Bahkan tanpa mampu dengan baik melihat bahasa tubuh dan ekspresi wajah, menjadi pendengar yang jeli pun dapat cukup baik dalam mendeteksi kebohongan dari pemilihan kata yang digunakan para pembohong. (*Afiev)

“The truth hurts but it doesn’t kill.

“The truth is hurts, but lies kill.”


“The truth is hurts, but lies kill.”
Kemarin aku menemukan kalimat itu di salah satu akun twitter.. tepat bersamaan disaat aku harus menghadapi kebohongan lagi. Saat aku mengetahui kebohongan itu, aku sudah tidak dapat berkata-kata lagi. Tidak ada amarah, tidak ada air mata, tidak ada rasa apa pun.. aku hanya diam, aku mati.

Aku tidak bisa mempersalahkan kebohongan. Tidak juga bisa mempersalahkan orang yang melakukan kebohongan itu. Aku pernah berbohong, dan aku selalu memiliki alasan kenapa aku memilih berbohong. Untuk itu aku berpikir bahwa kebohongan ini pun tercipta berdasarkan sebuah alasan. Tapi apa?


Jadi teringat sebuah film The Invention of Lying, dimana ada sebuah dunia yang penuh dengan kejujuran. Lalu kemudian satu manusia yang tinggal di dunia tersebut melakukan kebohongan dan dia terus-menerus berbohong. Bukankah memang satu kebohongan akan menciptakan kebohongan yang lain untuk menutupi kebohongan yang pertama?

Begitulah aku harus menghadapi kebohongan yang sama berulang kali. Aku pun mulai bertanya sebanyak berapa kali aku harus mentolerir kebohongan-kebohongan yang sudah diciptakannya? dua kali? tiga kali? atau tidak terbatas dan membiarkan kebohongan itu terus tercipta? lalu.. apakah diriku begitu pantas untuk dibohongi?

Sering kali aku memilih untuk menyakiti seseorang dengan kebenaran, dari pada aku harus berbohong. Bukannya aku sengaja ingin menyakiti, tapi jika aku berbohong itu akan menyakitinya dua kali lipat. So.. percayalah the truth is hurts, tapi itu lebih baik dari pada harus mengetahui sebuah kebohongan yang jauh lebih menyakitkan.

“The truth hurts but it doesn’t kill. The lie pleases but it doesn’t heal.”

Selasa, 09 September 2014

energi negatif (hantu, iblis, setan, dll.) mempengaruhi orang-orang melalui pemikiran?

Bagaimanakah energi-energi negatif (hantu, iblis, setan, dll.) mempengaruhi orang-orang melalui pemikiran?




Untuk dapat memahami artikel ini, kami menyarankan agar anda lebih mengenal artikel-artikel berikut ini:

Struktur dan fungsi-fungsi dari Pikiran
Pengenalan pada berbagai jenis dari hantu-hantu/ iblis
Daftar isi [Tampilkan]

1. Pendahuluan


Dalam artikel kami sebelumnya, kami telah memastikan bahwa mayoritas dari populasi dunia dipengaruhi oleh energi-energi negatif (hantu, iblis, setan dll.) atau mereka akan merasakan efeknya di tahun-tahun yang akan datang. Kami juga telah memberikan nasehat mengenai bagaimana seseorang dapat mengenal dan mengurangi efek dari energi-energi negatif pada diri sendiri melalui penyembuhan dengan spiritual dan praktik spiritual.

Salah satu manfaat dari penyembuhan dengan spiritual dan praktik spiritual adalah kita dapat memhami perbedaan di antara pemikiran yang timbul dari Pikiran bawah sadar dan pemikiran yang diberikan oleh energi-energi negatif (hantu, iblis, setan dll.). Satu cara praktis untuk memahami perbedaan ini adalah dengan mempelajari apakah pemikiran tersebut lenyap atau apakah intensitas atau frekuensinya berkurang setelah penyembuhandengan spiritual.

Namun dalam tahap – tahap awal praktik spiritual, mungkin sulit untuk memahami perbedaan tersebut. Selain itu, ketika pengaruh dari entitas-halus negatif sangatlah kuat, kadang-kadang mungkin diperlukan berbulan-bulan atau bertahun-tahun penyembuhan dengan spiritual dan praktik spiritual untuk memastikan dari mana pemikiran-pemikiran tersebut berasal.

Dalam artikel ini, kami mendata contoh-contoh dari berbagai jenis pemikiran yang diberikan oleh energi-energi negatif dan bagaimana pemikiran tersebut mempengaruhi orang-orang. Kami juga telah menjelaskan bagaimana pengaruh energi-energi negatif tersebut terhadap masyarakat luas berbeda dengan pengaruh mereka terhadappara pencari Tuhan YME/ Spiritualitas. Beberapa tanggapan dan tindakan-tindakan untuk perbaikan juga direkomendasikan bersamaan dengan setiap contoh di atas.

2. Bagaimana energi-energi negatif (hantu, iblis, setan dll.) meningkatkan hasrat keinginan dalam Pikiran


Saat energi-energi negatif (hantu, iblis, setan dll.) mempengaruhi kita dengan meningkatkan hasrat keinginan dalam Pikiran, di mana hal ini biasanya terjadi melalui mekanisme berikut ini.

Energi negatif mengirimkan suatu perintah langsung kepada Pikiran bawah sadar yang sasarannya adalah pusat insting dan hasrat keinginan. Misalnya: “Minumlah alkohol sekarang”, “Makanlah cokelat sekarang”, “tontonlah film sekarang”, “Dengarkan musik sekarang”, “Konsumsilah narkoba sekarang”, “Berhubungan badanlah sekarang”. Sebagai hasilnya, hasrat keinginan untuk bertindak sesuai perintah meningkat pada orang tersebut dan iamerasa ingin melakukan tindakan-tindakan tersebut.

Jika orang tersebut menentang hasrat keinginan ini, atau jika terdapat perlindungan Ilahi, atau jika orang itu merasakan kesadaran Ilahi (Chaitanya) atau Bliss/ Kebahagaiaan abadi (Anand, Ānand), maka energi-energi negatif (hantu, iblis, setan dll), meningkatkan intensitas dari perintah tersebut. Seperti contohnya: “Makanlah berkilo-kilo makanan; makan semua makanan yang ada dalam rumah”, “Berhubungan badanlah dengan 30 wanita” dll. (Perintah-perintahnya mungkin tidak persis seperti yang dijelaskan disini, tetapi prinsip dari perintah dan perasaan dalam Pikiran begitulah adanya)


Metode lain yang digunakan adalah dengan serangan sasaran ke pusat ‘suka’ dan ‘tidak suka’ dengan mengirimkan pemikiran dalam bentuk suatu ‘auto sugesti’, seperti: “Saya suka cokelat”, “Saya cinta alkohol”, “Saya cinta daging”. Kemudian pusat ‘suka’ mengirimkan impresi pada orang itu untuk melakukan tindakan tersebut. Seorang pencari mungkin tidak memiliki sebuah pusat ‘suka’ yang dikembangkan untuk hal-hal ini, namun ia tetap akan mersakan pusat ‘suka’ ini ada pada pikiran bawah sadarnya. Energi-energi negatif (hantu, iblis, setan dll.) membuat upaya ekstra dalam kasus ini, karena seorang pencari memiliki sebuah pusat untuk hasrat keinginan sattvik/ murni spiritual (sāttvik) yang memerangi hasrat-hasrat keinginan buruk tersebut.




3. Bagaimana energi-energi negatif (hantu, iblis, setan, dll.) meningkatkan pemikiran negatif tentang diri sendiri, orang lain dan Spiritualitas


3.1 Pemikiran-pemikiran negatif tentang diri sendiri

Seperti pada contoh sebelumnya, energi negatif (hantu, iblis, setan dll.) mempengaruhi kita melalui pemikiran-pemikiran negatif dan menempatkan pemikiran itu dalam pikiran kita. Dalam hal ini, prinsipnya pun sama, tetapi sugesti menyerang intelek dan ‘pusat’ identifikasi dan penafsiran.

Pemikiran yang mereka kirim tentang diri sendiri adalah, sebagai contohnya: “Anda adalah seorang pencari spiritual yang jahat. Anda layak menderita. Anda sangatlah jahat dan tidak ada jalan keluar. Bunuh diri adalah satu-satunya solusi bagi anda. Sebenarnya, anda seharusnya menghentikan praktik spiritual karena anda adalah seorang yang sangat jahat. “ Kemudian pencari tersebut mendapatkan pemikiran itu dalam pikirannya sbb: “Saya adalah seorang pencari spiritual yang jahat. Saya layak untuk menderita. Tidak ada jalan keluar. Satu-satunya solusi adalah bunuh diri. Saya seharusnya menghentikan praktik spiritual karena saya seorang yang jahat”.



3.2 Pemikiran-pemikiran negatif tentang orang lain

Jenis pemikiran yang ditempatkan oleh energi-energi negative (hantu, iblis, setan) tentang orang lain, sebagai contoh: “Orang ini sangatlah negatif”, “Dia memiliki ego yang besar”, “Apa yang ia katakan sekarang ini adalah ego”, “Orang ini tidak jujur”, “ Dia membecimu dan ingin merugikanmu”. Biasanya hal ini sepenuhnya tidak benar. Hal-hal yang sebenarnya tidak ada ditunjukkan, dan kita seperti melihat gangguan kepribadian dan ego yang tidak terdapat pada orang lain. Tetapi impresi akan hal tersebut ditempatkan dalam pikiran oleh energi negatif dan orang yang terpengaruh mulai berpikir seperti ini tentang orang lain. Dengan cara tersebut,pikiran dari orang yang terpengaruh menjadi keruh.



3.3 Pemikiran-pemikiran negatif tentang Spiritualitas

Pemikiran dikirim oleh energi-energi negatif (hantu, iblis, setan, dll.) yang bertentangan dengan praktik spiritual, termasuk pelayanan seseorang pada Kebenaran Absolut/ Tuhan (satseva, satsēvā), sebagai contohnya: “Praktik spiritual itu palsu”, “Tuhan itu tidak ada”, “ Tuhan membenci anda”, “Guru itu palsu dan menipu Anda”, “Guru/ Tuhan menyukai orang lain lebih dari anda”, “Anda tidak diperlakukan dengan adil”, “Satseva yang sedang anda lakukan bukanlah satseva”, “Penyebaran Spiritualitas tidak dapat terjadi”. Mereka juga dapat mengirimkan keraguan-keraguan intelektual untuk mengabaikan ilmu pengetahuan spiritual, sebagai contoh: “Daging itu bagus karena mengandung zat besi. Jika anda tidak memakan daging anda akan sakit. Ilmu pengetahuan modern telah membuktikan hal ini dan ilmu pengetahuan spiritual lah yang salah.

Energi-energi negatif (hantu, iblis, setan dll.) juga mengirimkan pemikiran yang mendistorsi/ menyimpangkan ilmu pengetahuan spiritual dengan tujuan membawa perilaku tamasik (tāmasik), seperti: “Tidak banyak yang akan terjadi jika anda tidak mandi atau membersihkan rumah. Ini hanyalah hal-hal kasar. Halus/ tak kasat mata lebih penting jadi anda tidak harus melakukan hal tersebut.” Atau bisa menjadi suatu pemikiran untuk mendorong praktik spiritual yang salah, seperti: “Anda seharusnya hanya duduk dan mengucap serta merepetisi dan tidak melakukan satseva karena pengucapan dan repetisi itu dilakukan di dalam diri dan satseva dilakukan secara eksternal pada tingkatan kasar/ fisik. Anda tidak perlu melakukan satseva karena anda telah melampaui hal itu. Anda sudah merasakan Bliss (Kebahagiaan abadi)”.

Dalam kasus-kasus yang lebih ekstrim untuk menyimpangkan atau mengganggu praktik spiritual, energi-energi negatif (hantu, iblis, setan dll.) dapat mengirimkan pemikiran untuk membuat seseorang berpikir bahwa aksi negatif tersebut adalah aksi positif, seperti: “Anda seharusnya membimbing diri anda sendiri. Dengan megikuti orang lain, anda tidak terhubung dengan Tuhan tetapi dengan orang itu. Setiap orang harus menjadi pembimbingnya sendiri”, atau “Narkoba memberikan pengalaman-pengalaman spiritual dan narkoba adalah alat spiritual untuk tumbuh secara spiritual”. Dalam hal memberi tahu orang lain tentang Spiritualitas, energi-energi negatif dapat juga mengirim pemikiran yang salah mengenai bagaimana Spiritualitas seharusnya disebar atau disosialisikan. Mereka dapat memberikan pemikiran-pemikiran untuk melakukan satseva dan menyebarkan Spiritualitas pada tingkatan psikologis yang justru dapat menyebabkan kesalahan. Mereka juga dapat memberikan pemikiran mengenaipenilaian tidak tepat atas seseorang yang ingin mengetahui spiritualitas (Contohnya, mengirimkan pesan bahwaseseorang adalah seorang pencari spiritual padahal dia bukan, dan sebaliknya bahwa seseorang bukanlah seorang pencari spiritual di mana sebetulnya ia adalah seorang pencari spiritual).



4. Bagaimana energi-energi negatif (hantu, iblis, setan, dll.) meningkatkan pemikiran akan kebanggaan dan ego.


Untuk meningkatkan pemikiran kita akan kebanggaan dan ego, energi-energi negatif (hantu, iblis, setan dll.) mengirimkan pemikiran, seperti: “Anda telah melakukan hal ini dengan sangat baik”, “Semua orang akan melihatnya”, “ Anda akan dipuji”, “ Semua orang melihat anda”, “Anda tampak bagus”, “Anda sangat pintar”.

Pemikiran-pemikiran ini bisa saja mengenai hal-hal yang berbeda-beda, bahkan tindakan-tindakan kecil yang tidak penting. Dalam kasus pencari-pencari spiritual/ Tuhan, energi-energi negatif membuat sugesti-sugesti yang lebih kuat, sebagai contoh: “Anda adalah yang terkuat dari semua orang”, “Anda adalah yang terpintar dari semua orang”, dan “Tidak ada seorangpun di dunia ini dapat melakukan hal ini lebih baik dari anda”.



5. Bagaimana energi-energi negatif (hantu, iblis, setan, dll.) memberikan pemikiran yang sangat buruk dan agresif.


Untuk mempengaruhi orang-orang dalam melakukan tindakan-tindakan yang sangat agresif, energi-energi negatif (hantu, iblis, setan dll.) mengirimkan visualisasi/ gambaran dari tindakan tersebut ke dalam pikiran orang itu. Orang terebut melihat tindakannya telah terjadi di dalam pikirannya dan kemudian termotivasi untuk bertindak sesuai apa yang divisualisasikan.

Selain visualisasi, energi-energi negatif dapat mengirimkan sebuah perasaan nikmat dari tindakan tersebut, artinya mereka menyebabkan seseorang mengalami rasa kenikmatan palsu dari membayangkan tindakan yang dilakukan tersebut.







6. Dalam rangkuman – Langkah-langkah untuk mengurangi pengaruh dari energi-energi negatif (hantu, setan, iblis dll) pada pikiran.


Tanpa diketahui sebagian besar umat manusia, pertempuran utama antara ‘baik’ melawan ‘jahat’ telah terjadi di wilayah-wilayah halus/ non-fisik sejak tahun 1993. Dari waktu ke waktu sepanjang sejarah, kekuatan-kekuatan non-fisik ‘jahat’ memperoleh energi spiritual yang cukup untuk mencoba mendirikan sebuah kerajaan iblis di Alam Semesta. Salah satu cara di mana mereka dapat menganggumanusia melalui pertempuran non-fisik ini adalah dengan merajut pemikiran tentang perilaku jahat yang membawa orang-orang menjauh dari mengejar pertumbuhan spiritual dan meningkatkan komponen-komponen Raja and Tama dilingkungan sekitar.

Karena kebanyakan orang tidak mengetahui pertempuran ini, mereka tidak menyadari bahwa pemikiran yang mereka alami bisa berasal dari entitas-entitas negatif di alam spiritual. Hanyalah melalui praktik spiritual yang teratur seseorang mulai mengenali kejadian-kejadian tersebut, belajar untuk mengatasi efeknya dan terlindung dari kejadian tersebut.

Senin, 08 September 2014

LIMA HAL YANG MEMBUAT MANUSIA JERA BERMAKSIAT  

LIMA HAL YANG MEMBUAT MANUSIA JERA BERMAKSIAT  

dikisahkan, pada suatu hari datanglah seorang pemuda ke rumah Ibrahim ibn Adham. Pemuda itu berkata, “Sungguh, aku penuh dosa dan maksiat. Tunjukkanlah aku jalan yang lurus. Berikan aku wejangan khusus agar jera dengan maksiat!”

Ibrahim menjawab, “Anak muda, jika kamu melakukan lima hal ini, kamu tidak akan termasuk orang-orang yang melakukan maksiat.”

Pemuda itu tampak kegirangan, “Jika betul begitu, sampaikanlah segera wejangan yang manjur itu!”

“Pertama, jika kamu ingin berbuat maksiat kepada Allah, janganlah kamu memakan sesuatu pun dari rezeki-Nya.”

Pemuda yang sedari tadi menunggu jawab itu tampak kecewa dengan wejangan Ibrahim. “Betapa kurang beruntungnya aku mendatangi rumahmu, wahai Ibrahim. Bagaimana mungkin engkau mengatakan hal itu, sementara kau tahu jika semua rezeki itu datangnya dari Allah?”

Dengan tenang Ibrahim menjawab, “Jika kamu mengetahui hal itu, apa pantas kamu memakan rezeki-Nya sedangkan engkau berbuat maksiat terhadap-Nya.”

Orang itu terdiam, dan perlahan berkata, “Tidak, wahai Ibrahim.”  Suasana hening. Keduanya tampak sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Kedua, jika kamu ingin berbuat maksiat kepada Allah, janganlah kamu bertempat tinggal di Bumi Allah.”

Lelaki itu kembali terheran-heran. “Bagaimana engkau mengatakan hal itu, wahai Ibrahim, padahal semua negeri adalah milik Allah?”

Ibrahim menjelaskan, “Bila kamu mengetahui akan hal itu, apa pantas kamu tinggal di Bumi-Nya dan berbuat maksiat kepada-Nya?”

Lelaki itu pun kembali menjawab “Tidak, wahai Ibrahim.”

Ibrahim melanjutkan, “Ketiga, jika kamu ingin berbuat maksiat kepada Allah, carilah tempat yang Allah tidak melihatmu!”

Lelaki itu berkata, “Wahai Ibrahim, sungguh aku tidak mengerti teka tekimu untuk kesekian kalinya. Beritahukan padaku, bagaimana engkau mengatakan hal itu, padahal engkau tahu jika Allah Maha Tahu segala rahasia, sekecil apapun. Bahkan, getar hatiku di gelap gulita pun Dia mengetahuinya?

Maka Ibrahim berkata kepadanya, “Bila kamu mengetahui hal itu, apa pantas kamu berbuat maksiat kepada-Nya?”

“Tidak, wahai Ibrahim.” Jawab pemuda itu, “Lalu apa selanjutnya?” tanyanya kemudian.

“Keempat, jika datang malaikat maut untuk mencabut nyawamu, katakan padanya, ‘Tundalah barang sedetik saja untukmu bertaubat!’”

Lelaki itu heran dan kembali bertanya, “Bagaimana engkau mengatakan hal itu wahai Ibrahim, padahal Allah berfirman, “Bila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya dan tidak dapat (pula) memajukannya?”

Ibrahim berkata kepadanya, “Bila kamu mengetahui hal itu, bagaimana kamu mengharapkan keselamatan?”

Lelaki itu berkata, “Benar. Berikanlah yang kelima wahai Ibrahim!”

Ibrahim pun melanjutkan, “Kelima, bila datang kepadamu malaikat penjaga neraka Jahannam, janganlah engkau pergi bersama mereka.”

Belum selesai Ibrahim mengatakan nasihat yang kelima, lelaki itu menangis tersedu-sedu sembari berkata, “Cukup Ibrahim! Aku mohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.”

——-

Abu Ishaq Ibrahim Ibn Adham lahir di Balkh. Berbagai literatur sejarah mengatakan bahwa ia merupakan seorang pangeran asli keturunan Arab yang kemudian memilih untuk meninggalkan kerajaannya dan hidup sebagai seorang pekerja kasar di Suriah.

Konon, Ibrahim wafat pada 165 H/ 782 M dalam ekspedisi melawan pasukan Byzantium.

SHALAT DAN HATI YANG MENDUA


Tak pernah meninggalkan shalat, tapi mengapa masih berbuat keji?

Dalam surat Al ‘Ankabut ayat 45 dijelaskan bahwa, jaminan bagi orang-orang yang melaksanakan shalat adalah dapat terhindar dari perbuatan keji dan munkar. “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.”

Shalat juga harusnya dapat mengentaskan kemiskinan melalui perintah zakat yang disandingkan dengan perintah shalat, “dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” (Qs. Al-Baqarah: 110).

Namun, di negara yang mayoritas penduduknya muslim, Indonesia misalnya—yang notabenenya minimal melakukan shalat lima waktu dalam sehari, kasus kejahatan masih tergolong tinggi. Pengemis masih banyak kita temui di jalanan, atau bahkan di rumah ibadah sekalipun, masjid. Kemiskinan masih merajalela di mana-mana. Anak yatim masih banyak yang belum tersantuni. Pejabat yang korup masih tersebar di hampir seluruh ranah kepemimpinan negeri ini. Para pelaku shalat masih banyak yang akhlaknya tidak dapat dicontoh.

Lantas, bagaimana sederet kasus tersebut masih saja terjadi? Apa yang salah? Apakah Allah keliru saat memberikan perintah berupa shalat? (Maha benar Allah atas segala firman-Nya). Atau manusianya yang ternyata masih belum benar melakukan perintah shalat?

Terkait ini, Syekh Abu Al-Hasan Al-Syadzili r.a. dalam Taj Al-‘Arus, mengatakan bahwa “Keadaan dirimu bisa diukur melalui shalat. Jika engkau meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi maka kau bahagia. Tapi, jika tidak, tangisilah dirimu.”

Ibnu Atha’illah, masih dalam Taj Al-‘Arus, mengatakan, “Jika engkau tidak menunaikan shalat dengan khusyuk dan tenang, sesalilah dirimu! Sebab, orang yang duduk dengan pemilik kesturi, ia akan dapatkan wanginya. Sementara, ketika shalat, sesungguhnya engkau duduk bersama Allah. Jika engkau ada bersama-Nya tetapi tidak mendapatkan apa-apa, berarti ada penyakit dalam dirimu, mungkin berupa sombong, ujub, atau kurang beradab. Allah Swt. berfirman, ‘Akan Ku-palingkan dari ayat-ayat-Ku orang yang bersikap sombong di muka bumi dengan tidak benar.’ (Qs. Al-A’raf 7: 146).

Barangsiapa yang ingin mengenal hakikat dirinya di sisi Allah dan mengetahui keadaannya bersama Allah, perhatikanlah shalatnya. Apakah ia melakukan shalat dengan khusyuk dan tenang atau dengan lalai dan tergesa-gesa?”

“Segalanya menjadi tak berguna ketika kita bertemu dengan-Nya (shalat), kecuali orang yang menghadap Allah dengan kalbu yang sehat,” lanjutnya.

Kalbu yang sehat adalah yang hanya bergantung kepada Allah. “Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri seperti pertama kali Kami ciptakan. Lalu kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) ini apa yang telah Kami karuniakan kepadamu.”

Dapat dipahami bahwa manusia baru bisa datang kepada Allah dan sampai kepada-Nya jika ia datang seorang diri, tanpa apa pun selain Dia (Allah). Allah berfirman, “Bukankah Dia mendapatimu sebagai yatim, lalu Dia memberikan perlindungan?”

Maksudnya, Allah akan melindungimu jika kau benar-benar yatim dari segala sesuatu selain Dia. Nabi Saw. bersabda, ‘Allah itu ganjil (tunggal), senang kepada yang ganjil.’ Artinya, Dia menyenangi hati yang tidak menerima dualisme. Hati itu hanya untuk Allah. Dengan pertolongan Allah, orang yang berada di hadapan-Nya dan mendapat curahan nikmat-Nya dapat memahami. Maka, bagaimana mungkin mereka akan bersandar kepada selain Dia, sementara mereka telah menyaksikan wujud ke-esaan-Nya.”

Dalam firman-Nya, Allah pun menggambarkan kalbu yang sehat dengan peringatan, “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongga dada.” (Qs.Al-Ahzab ayat 4)

Artinya, seseorang yang shalat, namun perbuatannya masih jauh dari ridha-Nya, sesungguhnya perbuatan itu tak ubahnya seperti burung yang sedang mematuk-matuk paruhnya. “Tak akan diterima shalat seseorang yang dilakukan bagai seekor burung yang mematuk-matuk makanannya.”

Oleh karena itu,shalat yang hanya menggunakan raganya dengan tidak menyertakan hati di dalamnya (khusyuk), pada dasarnya tidak akan mendatangkan apapun, termasuk pada pahala dan nilai kebaikan akhlak. Tanpa kehadiran hati, shalat kehilangan nilainya. Rasulullah bersabda, “Shalat yang diterima adalah sekadar hadirnya hati.”

Shalat pada dasarnya tidak secara otomatis dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Sebagaimana tecermin dalam sabda Rasul Saw. “Tak melakukan shalat orang-orang yang shalatnya tak menghindarkannya dari kekejian dan kemungkaran.” Artinya, shalat dapat menghasilkan kebaikan akhlak, jika perbuatan shalat itu sendiri dilakukan dengan baik dan benar, sesuai syariat (fikih) yang berlaku, juga harus dengan kesadaran penuh akan hadirnya hati dalam rongga dadanya. Sehingga si pelaku shalat tidak akan membagi hatinya untuk hal lain selain Allah.

Shalat yang benar akan termanifestasikan dalam kebaikan akhlak keseharian kita. Jika tidak, sesunggunya hati kita telah mendua, sebagaimana yang disebut dalam surat Al- Ma’un sebagai golongan orang yang lalai. “(Neraka) Wail bagi orang-orang yang shalat. Yaitu orang-orang yang lalai dalam shalatnya. Yang riya (tidak ikhlas karena Allah dan pamer). Dan menolak memenuhi keperluan dasar orang.”

Syekh Abdul Qadir Jailani dalam kitab Futuh Al-Ghayb, mengatakan bahwa, jiwa seseorang pasti berada dalam salah satu dari dua kondisi. Yakni, selamat atau celaka.  Jiwa dikatakan selamat apabila ia menyadari akan adanya kenikmatan yang jauh lebih besar ketimbang kenikmatan di dunia yang serba fana. Makanan, minuman, pakaian, harta, tahta, dan segala jenis yang dianggap sebagai kenikmatan manusia mampu ia singkirkan jauh dari pandangan hatinya.

Sementara itu, jiwa dikatakan celaka adalah jiwa yang tidak ridha terhadap segala ketentuan Allah atas hidupnya, dan mendua di saat perjumpaan dengan-Nya.

Dari Abu Hurairah diriwayatkan bahwa rasul Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah cemburu, demikian juga orang mukmin. Kecemburuan Allah timbul apabila hamba yang mukmin melakukan perbuatan yang diharamkan-Nya.” (H.R. Muslim)

Bahkan, dalam Mukaddimah Jauharul-Haqa’iq karya Syekh Syamsuddin As-Sumatrani, dijelaskan bahwa sungguh dzalim, orang-orang yang tidak mengetahui kapasitas dirinya sebagai hamba ketika menjumpai-Nya dalam (shalat). “Apa sebenarnya yang membuatmu tidak meng-esa-kan Allah Swt. dalam shalat? Dengan tauhid hakiki (tauhid al-haqiqi), yang merupakan benteng-Nya yang hakiki pula?”

CARA JITU MEMBANGUN EKONOMI KELUARGA



Masalah uang adalah masalah yang sensitif. Sebab dengan uang, manusia dapat melakukan segala cara. Manusia dapat menghalalkan yang haram. Mencuri, merampok, berbohong, hingga ke taraf korupsi. Termasuk bangunan keluarga pun akan berujung perceraian dengan beralasan uang atau hal materi. Pendidikan, sandang, pangan, papan, dsb merupakan faktor yang menunjang bertambahnya kebutuhan keluarga. Bertambahnya kebutuhan ini tidak dapat dipungkiri dan pasti terjadi dalam suatu rumah tangga.

Memasuki gerbang pernikahan berarti memasuki romantika kehidupan baru. Gerbang yang penuh cinta, penuh kasih sayang dan penuh kebahagiaan lainnya. Akan tetapi cinta bisa akan cepat pudar apabila muncul permasalahan-permasalahan baru. Seperti menambahnya beberapa kebutuhan rumah tangga. Oleh sebab itu, agar hal-hal buruk tidak menimpa keluarga, maka cukupnya ekonomi merupakan salah satu hal yang harus dipertimbangkan secara matang ketika akan menuju ke jenjang pernikahan. Lantas, bagaimana caranya membangun ekonomi keluarga tersebut?

Pertama, benahi bangunan ke-Islam-an keluarga.

Bangunan ke-Islam-an merupakan syarat utama dalam memilih pasangan dan memulai kehidupan berkeluarga. Sebagaimana Rasul saw bersabda bahwa dalam memilih pasangan hendaklah dikarenakan agama. Jika memilih karena harta, ia akan musnah. Jika memilih karena paras, ia akan hancur ditelan waktu. Begitu pula dalam membina rumah tangga. Setiap pasangan suami istri tentu menginginkan hubungan yang harmonis, tentram, dan sejahtera dalam ikatan mawaddah wa rahmah. Islam adalah pedoman bagi kelangsungan hidup bahagia dalam mengarahkan manusia mencari ekonomi keluarga sesuai fungsi suami. Isteri dalam kapasitasnya menjaga dan mengolah harta suami dengan penuh tanggung jawab. Anak menerima hasil jerih payah orang tuanya dengan benar. Tidak untuk digunakan foya-foya.

Manusia tidak akan berani mencuri, merampok, korupsi dan hal haram lainnya jika bangunan ke-Islam-an nya kuat. Mereka akan takut pada Allah SWT. Kalaupun si suami khilaf, maka kewajiban isteri lah untuk mengingatkan. Bukan malah sebaliknya, mendukung suami untuk berbuat dzalim. Begitu juga dengan si isteri. Jika sedang khilaf, maka suami harus mengingatkan dan mengarahkannya ke jalan yang lurus. Sebab suami dan isteri adalah pakaian dalam kehidupan manusia. Mereka harus saling menutupi segala jenis kekurangan. Mereka harus saling mengingatkan dan memperbaiki segala khilaf yang ada. Sebagaimana firman-Nya “Mereka (para isteri) adalah pakaian bagimu, dan kamu (suami) pun adalah pakaian bagi mereka”. (QS. al Baqoroh: 187)

Kedua, benahi Aset Rumah Tangga.

Anak, isteri dan suami adalah aset keluarga bahagia. Kadang kita masih suka menghitung aset yang kita miliki, yang kita kumpulkan satu demi satu, rupiah demi rupiah. Pernah kita juga menghitung aset dalam diri kita yang tidak berujung. Misalkan saja orang tua yang menyekolahkan sampai sarjana, jika dihitung-hitung, ternyata memang cukup besar. Ada yang ketemu berapa milyar. Tentu harga kita masing masing akan berbeda. Saya disekolahkan di Negeri mungkin Bapak atau Ibu di swasta sehingga perbedaan itu lah yang membedakan.

Kemudian kita memiliki anak yang berfungsi sebagai penerus orang tua. Ini juga merupakan aset, namun secara ekonomis belum dapat berdiri sendiri dan pada hakikatnya kita sedang membangun aset kita sendiri. Kadang  kita juga lupa bahwa kita lebih senang mengembangkan aset dari pada mempertahankan aset dahulu baru mengembangkan kemudian. Karena aset yang sudah ada perlu dijaga dan juga dalam pengembangan aset tak terlihat juga membutuhkan dana atau aset likuid. Sebagian dari kita sibuk akan investasi di sana sini tetapi tidak mempertahankan aset kita. Mungkin pada saat tidak terjadi resiko kita bisa senyum namun sudah siapkah kita jika terjadi resiko.

Pemikiran kita adalah aset, anak adalah aset, jadi mari kita pertahankan aset dahulu. Kita didik isteri (sebagai tanggung jawab suami) dan anak (sebagai tanggung jawab keduanya) dengan akhlak dan kode etik manusia Muslim dengan berpegang pada akhlak Rasul saw sehingga menghasilkan kelayakan ekonomi yang sesuai ajaran Islam. Sebab bagaimanapun juga ekonomi merupakan salah satu pilar penting kehidupan keluarga. Membangun ekonomi tidak akan mungkin tanpa memperhatikan aspek lain sebagai fondasinya. Tanpa dibangun ekonominya maka keluarga tidak mungkin hidup tenang dan sejahtera. Akan tetapi, ekonomi juga tidak akan tumbuh sempurna jika di dalam rumah tangga tidak menyandang sifat-sifat jujur, terpercaya, amanah, saling mengasihi dan sifat-sifat mulia lainnya.

Rasul dalam membangun keluarga, tidak terkecuali ekonomi, diawali dengan membangun akhlak. Keluarga diajak untuk berperilaku jujur, adil, berkata benar, memenuhi janji, peduli sesama, saling mencintai, tolong menolong, menghargai ilmu pengetahuan dan seterusnya. Perilaku seperti itu dianggap sebagai penentu, kunci, atau aspek yang sangat strategis terhadap bangunan sosial lainnya ke taraf yang lebih luas. Tidak akan mungkin dibangun keluarga yang sejahtera, adil dan makmur jika watak, perilaku atau akhlak lingkungan terkecil manusia (keluarga) rusak. Sedangkan tatkala membangun akhlak, Rasul menggunakan pendekatan ketauladanan (uswah hasanah).

Gambaran itu memberikan pengertian bahwa dalam membangun ekonomi di zaman Rasul, di antaranya ditempuh dengan cara membangun ekonomi keluarga terlebih dahulu dengan tetap memperhatikan masyarakat sekitarnya. Sebab keluarga adalah aset terpenting bagi suatu negara. Sebagai ilustrasi yang lebih nyata, Rasul memberikan contoh, jika seorang keluarga lagi memasak masakan yang istimewa, maka dianjurkan agar kuahnya diperbanyak, sehingga sekalipun sebatas kuahnya bisa dibagikan kepada tetangga dekat. Tetangga tidak boleh dibiarkan hanya ikut merasakan lezatnya masakan hanya dari baunya saja. Ini harus diajarkan pada aset-aset kita.

Begitu juga Rasul mengajarkan pada umatnya untuk selalu menjaga harga diri. Tidak menunggu bantuan atau uluran tangan orang lain dan juga tidak mengemis pada pemerintahan. Sebaliknya, kita harus aktif mencari nafkah untuk keluarga dengan kerja keras. Sebab memberi lebih baik daripada menerima. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Sebagaimana Rasul memberikan kampak kepada pengemis sebagai alat untuk digunakannya bekerja. Rasul tidak mengajarkan sikap pragmatis dengan memberikan makanan ataupun minuman, tapi kampak sebagai sarana bagi si pengemis untuk bekerja keras.

Islam dalam membangun ekonomi, dilakukan secara utuh, yakni membangun kehidupan secara keseluruhan. Keluarga dibangun akhlaknya, silaturrahminya, semangat saling membantu, kejujuran dan keadilan, kesetaraan derajat dan kepeduliannya antar sesama. Atas dasar sifat-sifat mulia itu kemudian berimplikasi pada masyarakat luas agar selalu ta’awun, membangun kasih sayang di antara semuanya. Mereka disatukan baik di masjid tatkala shalat berjamaah pada setiap waktu, maupun dalam memenuhi ekonomi kebutuhan hidupnya, sehingga jika sukses dalam keluarga, maka sukses pula negara. Mudah-mudahan kita semua termasuk hamba-Nya yang mampu membangun ekonomi keluarga dengan baik dan berdasarkan ajaran Islam. Aamiin.***

SELAMATKAN KELUARGA DARI API NERAKA

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. at-Tahrim: 6)

Berdasarkan ayat di atas, jelas bahwa hal yang harus pertama kali kita pelihara dari panasnya api neraka adalah keluarga. Sebab keluarga merupakan sekolah tempat putra-putri bangsa belajar. Di sana mereka mempelajari sifat-sifat mulia, seperti cara beribadah yang benar, kesetiaan, rahmat, kasih, sayang, saling menghormati, dan sebagainya. Jika hal yang diajarkan pada keluarga positif, maka positif pula yang kita petik. Sebaliknya, jika hal yang diajarkan negatif, maka negatif pula yang kita petik. Jika para orang tua memberikan makanan yang halal bagi putera-puterinya, maka hasilnya pun dipastikan akan berimplikasi baik untuk akhlak mereka. Begitupun sebaliknya. Jika yang diberikan dari hasil “kotor”, maka tidak menutup kemungkinan buah hati mereka akan menjadi orang-orang yang tertutup hatinya untuk dapat dekat dengan Sang Kholiq, Allah SWT.

Keluarga merupakan unit terkecil dalam kehidupan manusia. Keluarga merupakan unit terkecil yang menjadi pendukung dan pembangkit lahirya bangsa dan masyarakat. Selama pembangkit itu menyalurkan arus yang kuat dan sehat, selama itu pula masyarakat bangsa menjadi kuat dan sehat. Dari keluarga tatanan masyarakat suatu bangsa akan ditentukan kemajuan dan kemundurannya. Sebuah keluarga dibangun oleh sebuah komitmen oleh pembentuknya yaitu sepasang suami isteri untuk satu cita-cita, mewujudkan keluarga yang damai, harmonis yang disinari ikatan cinta kasih antara anggota keluarga. Keluarga merupakan kelompok sosial primer. Di dalamnya terjadi proses pembentukan norma-norma sosial. Pengalaman-pengalaman dalam interaksi sosial ini turut menentukan tingkah laku seseorang terhadap orang lain dalam pergaulan sosial di luar keluarga.

Dengan mengikuti alur pikir yang demikian, maka upaya penciptaan akhlak mahmudah harus dimulai dari lingkungan keluarga, sehingga pada saatnya nanti manusia dapat mencapai kemapanan dalam menghargai Tuhan atau taqorrub ilallah. Menghargai Tuhan berarti menjalankan perintah-perintah-Nya dengan melalui pakaian akhlak manusia, baik pakaian akhlak terhadap Allah, sebagai Tuhan semesta alam (hubungan vertikal) maupun pakaian akhlak antara manusia dengan makhluk lain (hubungan horizontal). Mengapa demikian?

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah, adalah orang yang paling takwa”. (QS. al Hujurot: 13) Takwa berarti menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangannya, sebagaimana Islam dilahirkan sebagai penyempurna agama-agama lain sebelum datangnya risalah kepada Muhammad saw, guna mengantarkan manusia pada ketakwaan.  Dan bapak adalah penyetir utama bagi keluarga untuk mengarahkan mereka. Apakah akan diarahkan ke syurga-Nya ataukah akan diarahkan ke neraka.

Memang, untuk mencapai ketakwaan yang dimaksud Allah SWT seperti terungkap dalam kitab suci-Nya sungguhlah tidak mudah, memerlukan kerja keras. Namun, bapak yang bertugas sebagai kemudi dalam rumah tangga. Ibu yang bertugas menjadi pendidik yang baik bagi anak-anak. Anak-anak yang bertugas bakti pada orang tua (selama perintah orang tua tidak melanggar aturan Islam) haruslah tetap memerankan peranannya sesuai tanggungjawabnya masing-masing. Semua aspek tersebut akan berkaitan erat di dalam keberlangsungan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Artinya, jika mereka sukses membina rumah tangga, maka sukses pula membina negara. Sebab keluarga merupakan cikal bakal terwujudnya komunitas ideal dalam suatu negara yang damai dan penuh ampunan “(Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. (QS. as-Saba: 15)

Rasul saw bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku (rasul) adalah sebaik-baik kalian terhadap keluargaku” (HR. Ibnu Majah). Dari hadits ini, maka sudah seharusnya kita mencontoh suri tauladan baginda kita Muhammad saw. Menjadi seorang bapak yang mampu memerankan karakter kebapaannya. Pemimpin bagi keluarga, pencari nafkah yang baik, pelindung isteri dan anak-anak, hakim yang adil di dalam istana rumah tangga. Sebab bapak merupakan pemeran utama dalam drama kehidupan  bagi keluarga.

Inilah yang dinamakan rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi semesta alam. Artinya, Islam dihadirkan di bumi ini guna menyebarkan bendera keselamatan. Bendera keselamatan tersebut bukan hanya untuk manusia, namun untuk seluruh alam yang ada di bumi ini. Satu bentuk pengabdian yang dapat dilakukan manusia adalah dengan menjadi wakil Allah (Khalifatullah) di muka bumi guna menjalankan misi kepemimpinan. “Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al An’am: 165)

Misi kepemimpinan manusia di muka bumi antara lain mencakup: Merawat lingkungan, melindungi makhluk-makhluk hidup dari kepunahan, menjaga kelestarian alam, menegakkan hukum, menebarkan kasih sayang, dan menghasilkan kemakmuran. Aplikasi dari kepemimpinan  manusia adalah akhlak.  Jika akhlaknya baik, maka  perilakunya terhadap alam pun akan baik pula. Sebab akhlak adalah salah satu bentuk yang tercermin dari keimanan seseorang.

Oleh karena itu, selain manusia diharuskan taat pada Allah dengan melakukan ibadah maqdoh, manusia juga diharuskan untuk mehidup melakukan ibadah ghoiro maqdoh, yaitu bermasyarakat, mengedepankan silaturahim, tepo sliro, saling menghargai dan juga memelihara alam. Inilah cermin akhlak umat Islam yang sesungguhnya. Cermin yang dapat memelihara keluarga dari panasnya api neraka dan mengantarkan pada indahnya cahaya syurga.  Dan bapak lah yang memiliki peran utama untuk mengantarkan perahu rumah tangga ke tepian syurga atau ke neraka.

Hal yang demikian pula merupakan cermin dari agama rahmatan lil ‘alamin. Agama yang dapat mengantarkan umat manusia dan alam semesta kepada kedamaian dan keselamatan. Bukan malah sebaliknya, saling benci dan marah, saling curiga dan saling menjelek-jelekkan agama atau kepercayan seseorang. Saling dendam dan saling emosi. Sebab Islam tidak menghendaki hal demikian. Islam tidak menghendaki kekerasan. Islam tidak menghendaki permusuhan.

Mudah-mudahan kita semua dapat menjaga diri dan keluarga kita dari panasnya api neraka dengan menempatkan Islam pada rahmat bagi semesta alam. Menjadi bapak yang baik bagi isteri dan anak-anak, menjadi pencari nafkah yang halal, sesuai tuntunan Islam. Menjadi isteri yang taat pada suami (selama tidak keluar dari ajaran Islam), menjadi pendidik dan pengajar (contoh) yang baik bagi puter-puteri. Menjadi anak yang berbakti pada kedua orang tua. Menjadi anak yang dapat mendoakan kedua orang tua kita. Amiin.***